Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Halmahera Tengah, Munadi Kilkoda, mengingatakn ancaman pencemaran lingkungan yang kian mengkhawatirkan di Teluk Weda, berdasarkan hasil riset 2024 yang dilakukan NEXUS3 dan Universitas Tadulako (UNTAD) tahun 2024, yang sejalan dengan studi yang dirilis WALHI dan akademisi Universitas Khairun pada 2023.
“Temuan tahun ini tidak jauh berbeda dengan hasil riset WALHI dan akademisi Unkhair sebelumnya. Ini memperkuat kekhawatiran kami sejak lama. Ada bahaya yang sedang mengintai kita di Teluk Weda. Laju investasi yang tidak terkendali justru mempercepat kerusakan lingkungan yang mengancam keselamatan warga,” ujarnya pada Kamis (29/5/2025) kemarin.
Munadi menyebut temuan mengejutkan terkait biota laut. Kandungan arsenik dalam ikan meningkat tajam hingga 20 kali lipat dibandingkan data tahun 2007. Selain arsenik, ikan juga mengandung merkuri. Penumpukan sedimentasi logam berat ditemukan di muara sungai, yang mengindikasikan perlunya pengujian lanjutan terhadap kualitas perairan di kawasan tersebut. “Ikan-ikan di Teluk Weda telah terkontaminasi arsenik dan merkuri. Bahkan kadar arseniknya melonjak drastis dibandingkan dua dekade lalu,” ungkapnya.
Yang paling mengkhawatirkan, lanjut Munadi, adalah temuan kandungan logam berat dalam tubuh manusia. Berdasarkan pengujian terhadap sampel darah 46 warga, ditemukan kadar merkuri dan arsenik yang sudah melampaui batas aman. “Paparan ini terjadi karena masyarakat mengonsumsi ikan yang berasal dari Teluk Weda, yang merupakan jalur utama kontaminasi,” jelas Munadi.
Meski kandungan logam berat lainnya seperti nikel, talium, timbal, dan cadmium masih di bawah ambang batas, ia menegaskan bahwa potensi bahayanya tetap nyata jika tidak segera dikendalikan.“Ini bisa menjadi ancaman jangka panjang jika terus dibiarkan,” imbuhnya.
Olehnya itu, ia mendesak pemerintah pusat, terutama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta pemerintah daerah untuk segera melakukan langkah konkret. Di antaranya adalah pemantauan rutin kualitas air dan logam berat di sungai serta investigasi terhadap kondisi ekosistem laut, termasuk padang lamun, terumbu karang, dan habitat penting lainnya. “Negara harus merespons ini dengan serius. Pengawasan harus diperluas dan diperketat,” seruannya. (RJ/Red2)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!