“Khairil mengklaim pengalaman kerjanya, termasuk posisi sebelumnya di Pokja Morotai dan sebagai Kabag Unit Layanan Pengadaan (ULP). Namun, di tengah perkenalan, dengan nada tinggi, ia langsung mengatakan akan memberhentikan lima orang dari Pokja begitu SK Plt-nya keluar,” ungkap pegawai tersebut mendeskripsikan suasana di acara itu.
Sikap Khairil yang menunjukkan emosi tinggi, dinilai oleh pegawai tersebut sangat tidak etis. Bukannya menyampaikan niat baik untuk bekerja sama dalam mendukung visi Gubernur Sherly, Khairil justru menciptakan suasana yang menakutkan di kalangan staf.
Pegawai itu menambahkan, keberadaan Khairil seharusnya menjadi peluang untuk membangun kolaborasi, bukan malah menebar ancaman. “Dia datang dari Pemkab Morotai dengan harapan bisa membangun bersama, terutama dalam upaya memajukan Maluku Utara. Namun, tindakan seperti ini justru memberikan citra negatif di awal kepemimpinan Sherly-Sarbin.”

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!