Lanjutnya, proses pembelian BBM di Koperasi Perikanan Bubula Ma Cahaya tergantung data yang terisi dalam rekomendasi, satu unit mesin diberikan 50 liter, apabila dua unit mesin maka diberikan 100 liter. “Kalau 100 liter dipakai dalam satu kali trip, maka trip berikutnya nelayan harus ambil ke pengecer dengan harga yang begitu tinggi, ” terangnya.
Selain kendala BBM, Rahman mengatakan, kini nelayan Ternate harus berhadapan dengan nelayan dari luar seperti nelayan dari Sulawesi Utara yang juga melaut di perairan Ternate. “Untuk sekarang Andon sudah tidak berlaku, kalau Andon berlaku penetapan aturan harus diberlakukan ke nelayan-nelayan di luar daerah, masuk ke sini wajib punya kontribusi terhadap daerah dengan cara hasil tangkap dijual di sini,” ujarnya.
Menurutnya, jika nelayan dari luar semakin bertambah, maka nelayan di Ternate merasa terganggu. “Kadang satu rumpon ada ikan terdapat 50 kapal yang mancing di situ,” bebernya.
Olehnya itu dia berharap DKP Ternate menindak nelayan dari luar yang kebanyakan dari Sulawesi Utara itu. “Kalau boleh sering-sering memberikan arahan sekaligus penegasan ke nelayan dari luar ini, karena saya sering menerima aduan dari nelayan yang merasa terganggu kedatangan nelayan dari Sulawesi Utara ini,” harapnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!