Rahman juga mengeluhkan terkait dengan jatah pengambilan BBM yang tidak sesuai dengan rekomendasi yang dikeluarkan DKP. Dimana jatah pengambilan dalam sebulan 15 kali, tapi saat ini hanya dilakukan 4 kali saja.
”Proses pengambilan BBM jika mengikuti rekomendasi itu 15 kali pengambilan dalam sebulan, sekarang hanya tersisa 4 kali pengambilan per bulan. Kami sudah ikuti pertemuan yang dibuat Ombudsman di Hotel Sahid Bela, sampai sekarang belum ada kejelasan,” keluhnya.
Ia menyebutkan, dalam satu kali pengambilan biasanya pihak distributor memasok 1.000 liter, jika 4 kali pengambilan maka hanya 4.000 liter, tersisa 9.500 liter dari kuota sebanyak 13.500 liter per bulan yang diterima koperasi. “Dengan jatah 4000 liter ini tara (tidak) cukup untuk kebutuhan nelayan,” cetusnya.
Rahman mengungkapkan, nelayan yang tergabung di koperasi ini salah satunya yaitu nelayan tuna. Untuk mencapai daerah tangkapan maka jarak yang harus ditempuh di atas 12 mil. Dengan jarak tempuh yang jauh artinya pemakaian BBM sudah pasti meningkat.
“Kemarin ada anggota yang pergi melaut dengan jarak 60 mil, apabila dalam jarak yang begitu jauh kalau pergi pulang, BBM yang dipakai akan meningkat. Per hari nelayan biasa ambil 50 liter, tapi dengan jarak yang begitu jauh, harus di atas 100 liter baru bisa cukup,” ungkapnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!