Belajar dari Kelurahan Salero, Atasi Sampah jadi Karya Produktif

Namun yang menjadi keluhannya adalah soal pembiayaan untuk kebutuhan kader. 

“Alhamdulillah, untuk saat ini kader pilah sampah masih berjalan, hanya saja kita butuh waktu dan saya juga pikirkan kondisi kebutuhan kader, kasihan kantor lurah ini tidak punya uang, jadi saya coba manfaatkan lewat kegiatan bimtek agar mereka juga dapat manfaat dari kegiatan itu,” ucapnya.

Keterbatasan lain juga ada dalam proses pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos dengan semangat yang tinggi, namun minim fasilitas sehingga dengan upaya para kader  sendiri melakukan sosialisasi ke rumah warga.

BACA JUGA  Atlet Morotai Menuju Porprov, Ketua KONI : Dari Bibir Pasifik Kami Datang Untuk Meraih Prestasi

“Kalau pengolahan sampah organik menjadi kompos, kader kami yang turun sosialisasi ke masing-masing rumah agar sampah organik itu dicacah, seperti makanan, daun-daun, kulit buah. Tapi kalau memang belum dicacah, berarti saya bersama kader yang melakukan pencacahan menggunakan alat seadanya. Kalau botol plastik diolah menjadi kursi sofa peralatan kami cukup lengkap, sejak 2022 kami sudah punya mesin potong berukuran kecil dan mesin jahit”, papar Kalsum.

BACA JUGA  ASN Ngeluh, Pemda Taliabu Nunggak Bayar Kekurangan Gaji 8 Persen 

Selain memanfaatkan sampah, kata dia, kegiatan ini juga bertujuan membuka lapangan pekerjaan dengan melibatkan elemen masyarakat yang ada di lingkungan kelurahan. (Mg04/Red)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah