Dikatakan, wilayah Kota Ternate hampir semua berada pada kawasan bencana sesuai dengan karakter masing-masing wilayah. Misalnya, kali mati atau barangka memiliki akses langsung dengan kali mati yang berada di puncak gunung, sehingga ketika terjadi hujan, maka material yang berada di puncak tersebut sewaktu-waktu akan teraliri mengikuti aliran sungai.
Dedy menyebutkan, salah satu problem kota Ternate adalah keterbatasan ruang, sehingga ketika ada pembangunan maka harus diikuti dengan mekanisme. Begitu juga pengawasan serta tata kelola pembangunan harus berbasis mitigasi.
“Jadi yang harus dilakukan oleh Pemkot Ternate harus sesegera mungkin mengupdate kembali dokumen kebencanaan, model sosialisasi harus rutin sehingga menjadi budaya dalam masyarakat melalui dukungan program serta berkomitmen pada aksi yang sudah direncanakan dengan berbenah berbasiskan mitigasi,” pungkasnya. (Rul/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!