Pemerintah dan Muhammadiyah Diprediksi Idul Fitri ‘Bareng’ Meski Awal Ramadhan Berbeda

Disadur dari tirto.id, peneliti Riset Astronomi-Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menerangkan bahwa perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha di Indonesia utamanya bukan disebabkan berlainan metode. Namun, terjadi karena ada perbedaan kriteria penentuan awal bulan.

PP Muhammadiyah melakukan penentuan awal bulan dengan kriteria hisab wujudul hilal (terbentuknya hilal). Sementara pemerintah dan sebagian besar ormas Islam lain, menentukan berdasarkan hisab imkannur rukyat (kemungkinan terlihatnya hilal) dengan kriteria Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

“Wujudul Hilal hanya oleh Muhammadiyah. Pemerintah dan sebagian besar ormas Islam pakai kriteria MABIMS,” kata Thomas kepada reporter Tirto, Selasa (2/4/2024).

Kriteria terlihatnya hilal yang saat ini digunakan pemerintah adalah kriteria MABIMS yang menyatakan hilal dapat teramati jika jarak sudut atau elongasi Bulan-Matahari minimal 6,4 derajat dan tinggi hilal 3 derajat. Kriteria ini mensyaratkan adanya pengamatan hilal atau rukyat.

BACA JUGA  Muhammadiyah Tetapkan Awal Ramadhan 18 Februari 2026, Kemenag Morotai Masih Tunggu Sidang Isbat

Sementara yang digunakan PP Muhammadiyah, berdasarkan hisab dengan kriteria wujudul hilal alias terbentuknya hilal. Menurut kriteria ini, hilal terbentuk jika konjungsi atau kesegarisan Matahari, Bulan, dan Bumi terjadi sebelum magrib dan matahari terbenam lebih dulu dibandingkan bulan. Kriteria ini tidak mengharuskan adanya rukyat.

Lebaran Diprediksi Serentak 10 April

Kendati diawali dengan perbedaan, Idul Fitri 1445 Hijriah disebut dapat berlangsung berbarengan. Hal ini dikuatkan hasil analisis prediksi awal Syawal yang dilakukan oleh Peneliti Riset Astronomi-Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin.

Menurut pengamatan Thomas, posisi hilal pada saat magrib akhir Ramadhan di wilayah Indonesia sudah cukup tinggi. Pada saat Magrib, 9 April 2024 mendatang di Jakarta, tinggi bulan sudah melebihi dari 6 derajat. Berarti sudah melebihi batas kriteria MABIMS (minimal 3 derajat).

BACA JUGA  Semester I, Realisasi APBD Pulau Taliabu Sebesar Rp 200 Miliar Lebih

“Diharapkan cahaya senja sudah redup pada posisi hilal tersebut,” kata Thomas.

Selain itu, elongasi bulan (jarak pisah matahari) pada saat Maghrib juga relatif besar, yakni lebih dari 8 derajat. Artinya juga telah melebihi batas kriteria MABIMS minimal 6.4 derajat. Hilal diharapkan sudah cukup tebal untuk dapat teramati.

Walaupun begitu, kata Thomas, tetap akan sulit karena masih sangat tipis. Jika hilal Syawal dapat teridentifikasi, dia berharap dapat menjadi bahan Kementerian Agama mengisbatkan Idulfitri jatuh pada Rabu, 10 April 2024.

“Idul Fitri 1445 insyaa Allah seragam pada 10 April karena posisi bulan pada 9 April sudah cukup tinggi,” sebut Thomas.

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah