Diusulkan sejak 1968, Sultan Baabullah Akhirnya Dianugerahi Pahlawan pada 2020

Ternate, Haliyora

Piagam dan plakat penganugerahan Sultan Baabullah sebagai Pahlawan Nasional telah tiba di Ternate. Dua benda monumental itu dibawa langsung oleh salah satu perwakilan pewaris kesultanan Ternate, Pangeran Hidayat Mudafar Sjah.

Bacaan Lainnya

Didampingi perwakilan Kementerian Sosial RI dan Ketua Persedium Keluarga Malamo ( Karamat) M. Ronny Saleh, Hidayat yang juga putra almarhum Sultan Mudafar Syah, buyut Sultan Babullah tiba di Ternate dengan pesawat Garuda Air Lines, Sabtu (14/11/2020), sekitar pukul 10.WIT disambut unsur Forkopimda Maluku Utara, Walikota Ternate serta perangkat adat Keultanan Ternate dan warga masyarakat.

Tata cara penyerahan Plakat dan Piagam gelar Sultan Baabullah sebagai Pahlawan Nasional tersebut diberikan pemerintah pusat kepada Gubernur dan selanjutnya Gubernur menyerahkan kepada Walikota Ternate untuk dibawa ke Keraton Kesultnan Ternate untuk diserahkan kepada ahli waris kesultanan.

Di Kesultanan Ternate, tepatnya di pandopo Keraton digelar Upacara penyambutan plakat dan piagam gelar Sultan Baabullah sebagai pahlawan nasional dihadiri langsung Direktur Kepahlawanan Kemensos-RI, Gubernur Malut yang diwakili Kadis Sosial dan Forkompimda Malut, Wali Kota Ternate dan Forkompimda Ternate serta perangkat adat Kesultanan Tidore, Bacan, Jailolo serta Ternate. Turut hadir pula beberpa organisasi paguyuban sebagai penyokong utama pengusulan penganugerahan Sultan Babullah sebagai pahlawan nasional, salah satu diantaranya KAPITA TAHANE.

Pangeran Hidayat Mudafar Sjah, selaku keturunan Sultan Baabulah Datuk Syah dalam sambutannya, menceritakan penggagas awal pengusulan sultan Baabulah menjadi pahlawan nasional adalah Sultan Mudafar Syah pada tahun 1968.

Katanya, mewujudkan gagasan pengusulan Sultan Baabullah Datuk Syah sebagai Pahlawan Nasional tersebut, Sultan Mudafar Syah membentuk sebuah organisasi paguyuban dalam dewan adat yang diberi nama ‘Pemuda Dewan Adat (PEDA) yang menjadi cikal bakal terbentuk organisasi paguyuban bernama Pemuda Babullah. Kemudian dilembagakan dalam satu lembaga formal struktur kesultanan Ternate bernama Kapita Baabullah.

Selang 30 tahun kemudian, sambung Hidayat, pada tahun 1998 atas izin Sultan Mudafar Sjah, Kapita Babullah dirubah namanya menjadi Generasi Muda Sultan Baabullah disingkat GEMUSBA.

“Itulah pertama pengusulan Sultan Baabullah sebagai Pahlawan Nasional. Jadi Kami sudah mengusulkan Sultan Baabullah menjadi pahlawan nasional pada waktu itu, namun ada satu peristiwa yang terjadi pada tahun 1999, sehingga tidak bisa di lanjutkan,” tutur Hidayat.

Selanjutnya, menurut Hidayat, dengan dianugerahkan Sultan Baabullah menjadi pahlawan nasional, maka suka tidak suka harus ada rekonstruksi sejarah penjajahan bangsa-bangsa eropa di bumi Nusantara. Bahwa sejarah penjajahan bangsa Eropa di bumi Nusantara, kata Hidayat harus dimulai dari masuknya Portugis di Ternate (Moloku Kie Raha), bukan bangsa Belada. Artinya sekitar 400 tahun lebih bangsa-bangsa di nusantara ini di jajah oleh bangsa asing,” tambahnya. (Sam-1)

Pos terkait