Didemo Warga Loloda, Frans: Video Sudah Dipotong

  • Whatsapp

Tobelo, Haliyora.com

Ratusan Warga Loloda menggelar aksi di depan Kantor Bupati Kabupaten Halmahera Utara (Halut), Rabu (16/9). Aksi ini sebagai bentuk kecaman atas pernyataan Bupati Halut, Frans Manery yang dianggap menyudutkan dan mendiskriminasi bahkan memghina warga Loloda.

Bacaan Lainnya

Ketersinggungan warga Loloda itu, terkait pernyataan Bupati Frans saat mengatakan “kita me pande tra bodoh sama deng dorang”, yang diduga ditujukan kepada warga Loloda. Frans yang juga Balon Bupati Petahana, mengatakan bahwa jika tidak memilihnya pada Pilkada nanti, maka dia tidak akan membangun jembatan di Loloda.

Pernyataan Frans ini disampaikan pada saat sambutannya dalam kegiatan pembagian Bantuan Sosial (Bansos) kepada warga desa Makarti Kecamatan Kao Barat, Senin (7/9).

“Penyampaian Bupati terlalu menyudutkan, mendiskriminasikan, bahkan menghina harga diri orang loloda. Perkataan semacam itu tidak pas (diucapkan) seorang pejabat publik,” kata Rivaldo Djini selaku Koordinator aksi, dalam orasinya.

Dalam orasinya juga, Rivaldo mengecam pernyataan Bupati yang terkesan mengancam pemerintah desa, dalam pernyataannya,

“Jika tidak pilih maka jembatan tidak jadi, Ingat kades-kades saya sudah mendaftar”.

“Kami sangat sesali penyampaian Bupati Halut, seolah-olah keberhasilan membangun jalan trans Galela-Loloda menggunakan dana pribadinya untuk membangun daerah,” cecar Rivaldo.

Selain memggelar aksi, massa aksi juga melaporkan Bupati Frans ke Polres Halut. Warga meminta agar Bupati Halut diproses hukum terkait dengan pernyataannya.

Terpisah, Frans Manery saat di konfirmasi Haliyora.com usai pemeriksaan klarifikasi di Bawaslu Halut, rabu (16/9). menjelaskan bahwa pernyataannya lewat video yang menyebar tersebut sudah di potong-potong.

Frans mengaku dalam video yang masih utuh, sebelum dipotong-potong, Dia tidak pernah mengatakan bahwa orang loloda itu bodoh. Frans meminta warga agar tidak menonton video yang sudah dipotong-potong oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Frans menjelaskan bahwa sebutan kata bodoh ditujukan kepada orang-orang yang mengatakan dirinya tidak berbuat apa-apa, dan tidak ada perubahan di Kota Tobelo selama masa kepemimpinannya sebagai Bupati.

“saya tidak bodoh sama deng dorang, dan kata bodoh dipotong dari awal sambutan sampai masuk dalam konten penjelasan jalan loloda. Padahal kata bodoh itu untuk orang-orang yang suka mengkritik tanpa dasar, sehingga mengatakan saya tidak berbuat apa-apa selama jadi Bupati,”ungkapnya.

Frans memgaku telah menyerahkan kasus ini ke tim hukum partai politik, untuk dilakukan pengkajian atas penyebaran video tersebut.

“jika ini menimbulkan keresahan masyarakat atas video, dan saya dituduh diskriminasi, itu saya serahkan ke tim hukum, tapi kalau untuk saya tidak perlu dilanjutkan,” ucapnya.

Sementara kuasa Hukum Frans Manery, Herry Hiorumu mengatakan, video yang sempat Viral hingga menimbulkan keresahan masyarakat itu sudah tidak utuh.

“kita lalui proses di Bawaslu dulu, baru akan lakukan kajian atas video yang diplintir, karena ini suda meresahkan warga dan merugikan bagi FM-Mantap,”pungkas Herry. (Fik-2)

Pos terkait