Gara-Gara Upah Kerja, Empat Ruangan SDN 190 Halsel Diboikot

  • Whatsapp

Halsel, Haliyora.com

Mantan kepala (Kepsek) Sekolah Dasar Negeri (SDN) 190 Halsel, Hajija Hi. Jafar kembali beralasan saat ditagih tunggakkan upah tukang pembangunan empat lokal Gedung Sekolah dan uang pembayaran mobiler yang telah di tuntaskan.

Bacaan Lainnya

Hajija Hi. Jafar yang menjabat Kepsek SDN 190 Halsel di Desa Lelei Kecamatan Kayoa, hingga akhir Tahun 2019 mengatakan bahwa dirinya akan melunasi upah tukang pada kegiatan pembangunan rehabilitasi empat lokal bangunan sekolah sebesar 24 Juta Rupiah dan sisa pembayaran Mobiler sebesar 12 Juta Rupiah.

Akan tetapi, Hajija mengaku belum bisa memastikan waktu jatuh tempo untuk bisa melunasi upah tukang maupun sisa pembayaran mobiler.

“saya belum bisa pastikan tanggal berapa dan kapan bisa lunas, karena saya masih tunggu orang kase pulang uang saya, baru lunasi,” ucap Hajija beralasan, saat diwawancarai Haliyora.com melalui telepon seluler, minggu (23/8).

Sementara, ketua kelompok tukang (Bas), Tamrin Adam ketika dikonfirmasi pada hari itu juga, membeberkan bahwa mantan Kepsek, Hajija, hingga saat ini baru membayar upah tukang sebesar Rp 16 Juta dari jumlah total 42 Juta Rupiah. Padahal pekerjaan rehabilitasi empat lokal bangunan tersebut sudah selesai dikerjakan dari September 2019 lalu.

“Kelompok kerja dari delapan orang dengan besaran upah kerja Rp 40 Juta baru diterima 16 juta, pada bulan September 2019 lalu sampai sekarang belum menerima 24 Juta sisanya”, ungkap Tamrin.

Tamrin menegaskan bahwa mereka (tukang) tidak akan memberikan kunci bangunan kepada pihak sekolah SDN 190 Halsel, selama upah mereka belum dilunasi oleh Mantan Kepsek.

Terpisah Ikram M Djawa, pemilik Meubel yang membuat mobiler SDN 190 Halsel saat ditemui Haliyora.com di Desa Guruapin Kayoa, Minggu (23/8), mengeluhkan sikap mantan Kepsek yang belum melunasi pembayaran mobiler yang dibuatnya sebesar 12 Juta Rupiah.

Dia bilang, akibat belum dilunasi, mobiler tersebut belum dibawa ke SDN 190 Halsel di Desa Lelei. Sehingga tumpukkan mobiler itu sudah sejak delapan bulan menumpuk dirumahnya, di Desa Guruapin.

“Saya so tunggu dong datang bayar kase lunas 12 Juta biar kase kosong isi ruangan karena tatumpuk, jadi tamu kalo datang hanya bisa duduk di ruang makan,” keluhnya.

Baik Tamrin maupun Ikram, sama-sama berharap agar Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Halsel bisa membantu menyelesaikan masalah hak mereka yang belum diberikan mantan Kepsek, Hajija. Karena selama ini, mereka hanya diberi janji terkait pembayaran upah tukang maupun pembayaran mobiler oleh Hajija.

Untuk diketahui, Proyek rehabitasi empat bangunan ruang sekolah SDN 190 Halsel di Desa Lelei dibangun dengan pagu anggaran 463 Juta Rupiah dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun anggaran 2019. (Asbar)

Pos terkait