Cerita Tukang Jahit dan Penjual Pakaian Menjelang Lebaran di Tengah Pandemi Corona

Ternate, Haliyora.com

Biasanya menjelang lebaran seperti sekarang ini adalah hari yang sangat sibuk bagi para penjahit pakakaian. Pasti banyak orderan. Hampir semua ummat Islam ingin menganakan pakaian baru di hari lebaran nanti. Kalau bukan beli pakaian jadi, pasti beli bahan kemudian dijahit, dan sasarannya dimana lagi kalu bukan ke tukang jahit. Begitu juga pedagang pakaian. Pasti banjir keuntungan jelang lebaran seperti sekarang. Tapi itu cerita di tahun-tahun kemarin, beda dengan tahun ini.

Tahun ini adalah tahun paceklik, Tahun susah. Seluruh ummat manusia di muka bumi ini sedang diuji Tuhan, termasuk ummat Islam di Kota Ternate yang tinggal beberapa hari lagi merayakan idul fitri.

Virus corona datang mengamuk. Amukannya mengancam kesehatan dan nyawa manusia. Bahkan memporak-porandakan ekonomi masyarakat.

Tidak sedikit nyawa melayang, direnggut si corona. Banyak pelaku usah terkuras modal usaha dan nyaris bangkrut. Tak sedikit juga pekerja kehilangan mata pencaharian, karena sulit beraktifitas di luar rumah.

BACA JUGA  Dikawal Polri, 7.160 Vaksin Corona Tiba di Malut

Ini pula yang dikeluhkan para penjahit pakaian di pasar Gamalama Ternate dan penjual pakaian jadi di Pasar Bahari Berkesan. Mestinya, saat-saat seperti ini mereka panen rejeki dari orang yang memanfaatkan jasa mereka untuk memiliki pakaian baru.

Namun apa mau dikata, warga masyarakat saat ini lebih memilih melindung selembar nyawa mereka yang tak dijual di pasar, daripada selembar baju baru yang pasti di waktu lain bisa didapat.

Akibatnya sudah bisa ditebak, penghasilan menurun drastis karena sepi pengunjung

Abdullah Muhammad, seorang penjahit di pasar Gamalama mengaku kehilangan pendapatan lumayan besar, jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepada Haliyora.com Abdullah mengaku sekarang hanya bisa bertahan untuk memenuhi kebutuhan makan minum keluarga. “Sekarang ini jangankan untung, dapat sedikit untuk makan minum saja sudah syukur,”katanya, Sabtu (16/05/2020)

Keluhan yang sama datang dari Sukarni. Penjual pakaian muslim asal Sulawesi yang terlihat murung menunggui jualannya di pasar Bahari Berkesan.

BACA JUGA  Berkas Perkara Ketua Baranusa dan 6 Rekannya Segera Tahap Dua

Sukarni tersadar dari lamunannya saat Haliyora.com menghampirinya. Ia segera menawarkan sepotong baju koko. Baju itu terlihat manis model terbaru. Namun memang tujuan kedatangan Haliyora.com bukan untuk belanja, melainkan bincang-bincang tentang kondisi pasar pakaian disaat pandemik Covid-19 saat ini.

Beberapa saat kemudian, sukarni bisa diajak berbincang-bincang. Katanya, sejak pagi hingga menjelang sore itu belum ada satu pun dagangannya laku terjual.

Mirisnya, kondisi seperti itu sudah dilaluinya berhari-hari, sejak darurat Pandemi Covid-19.

”Sejak ada corona ini, pembeli kurang datang. Dalam sehari, kalau ada yang datang dan membeli baju satu, itu sudah sangat bersyukur. Bahkan sering tidak ada yang laku dalam sehari,”ucapnya sendu.

Meski begitu, ia terlihat berusaha tegar dalam kesulitan hidup. “Tidak apa-apa, yang penting kita diberi kesehatan. Mudah-mudahan virus corona ini cepat hilang, sehingga kita dapat berusaha dengan normal lagi,”imbuhnya. (Riko)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah