Haliyora.id – Tidak semua desa memiliki kemewahan yang sama saat Hari Raya Idul Adha tiba. Di Desa Kalaodi, sebuah kampung yang berada di lereng pegunungan Kecamatan Tidore Timur, Kota Tidore Kepulauan, hewan kurban bukanlah sesuatu yang selalu hadir setiap tahun.
Karena itu, kedatangan Ekspedisi Seribu Pulau (ESP) #10 tidak hanya membawa program pengabdian masyarakat. Kehadiran para relawan juga menghadirkan kebahagiaan yang sederhana namun bermakna: memastikan masyarakat dapat merasakan pelaksanaan kurban pada Idul Adha 1447 Hijriah.
Selama hampir tiga pekan, sejak 19 Mei hingga 8 Juni 2026, para delegasi ESP #10 menjalankan berbagai program pengabdian dengan tema “Cahaya Islam di Surga Rempah Nusantara”. Program yang diinisiasi Yayasan Kapal Ekspedisi tersebut dipimpin oleh Ahmad Khotibi dan melibatkan puluhan relawan dari berbagai daerah di Indonesia.
Salah satu program yang paling membekas bagi masyarakat adalah penggalangan dana kurban. Melalui kampanye infak yang dilakukan sebelum keberangkatan, relawan berhasil menghimpun dana untuk menyediakan satu ekor sapi dan dua ekor kambing kurban bagi warga Kalaodi.
Bagi sebagian masyarakat perkotaan, jumlah itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi warga Kalaodi, kehadiran hewan kurban memiliki arti yang jauh lebih besar. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah hewan kurban di desa tersebut sangat terbatas, bahkan pada waktu tertentu tidak tersedia sama sekali.
Karena itu, kurban yang dibawa para relawan menjadi simbol gotong royong yang melampaui batas geografis. Ia menghubungkan para pekurban dari berbagai daerah dengan masyarakat di sebuah desa kecil yang berada jauh dari pusat keramaian.
Namun pengabdian ESP #10 tidak berhenti pada penyaluran kurban.
Para relawan juga menjalankan berbagai program pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi, pelestarian lingkungan, hingga promosi potensi desa. Seluruh program dirancang agar masyarakat memperoleh manfaat yang berkelanjutan setelah para relawan kembali ke daerah asal masing-masing.
Di bidang Pendidikan dan Dakwah, para delegasi menyelenggarakan Festival Anak Saleh yang melibatkan anak-anak dari Kampung Gulili dan Dola. Festival tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar sekaligus menunjukkan kemampuan mereka dalam berbagai cabang lomba seperti Da’i dan Da’iyah, Adzan, serta Hafalan Surah Pendek.
Menariknya, perlombaan tidak hanya menjadi ajang kompetisi. Sebelum festival berlangsung, para peserta mendapatkan pendampingan dan pelatihan setiap hari dari relawan. Proses itulah yang menjadi inti pengabdian: membangun kepercayaan diri, menumbuhkan semangat belajar, dan mempererat hubungan antara anak-anak dengan masjid serta nilai-nilai keislaman.
Sementara itu, Divisi Ekonomi dan Lingkungan (Ekoling) berupaya memperkuat kapasitas masyarakat melalui berbagai pelatihan keterampilan. Warga diperkenalkan pada cara mengolah minyak jelantah menjadi lilin bernilai ekonomis, sekaligus belajar mengembangkan produk turunan pala seperti manisan dan jamu yang memiliki peluang pasar lebih luas.
Bagi Kalaodi yang dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil rempah di Tidore, pengolahan produk lokal menjadi barang bernilai tambah dinilai penting untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, Divisi Media Kreatif dan Pariwisata berfokus pada dokumentasi dan promosi potensi desa. Melalui pelatihan fotografi dan produksi konten, masyarakat diajak melihat bahwa kekayaan alam, budaya, dan cerita lokal dapat menjadi aset penting yang layak diperkenalkan kepada publik yang lebih luas.
Perjalanan menuju Kalaodi sendiri menjadi cerita tersendiri bagi para relawan.
Ica Khair, delegasi asal Sumatera Barat yang menjadi salah satu penerima pendanaan penuh dalam ekspedisi ini, harus menempuh perjalanan panjang selama hampir dua pekan melalui jalur laut. Ia transit di Makassar, Ambon, dan Baubau sebelum akhirnya tiba di Maluku Utara.
Meski melelahkan, pengalaman tersebut justru memperkaya makna pengabdian yang dijalaninya.
Menurut Ica, pengabdian tidak selalu diukur dari perubahan besar yang terlihat dalam waktu singkat. Ada hal-hal yang lebih mendasar, seperti menumbuhkan motivasi belajar pada anak-anak, menghidupkan aktivitas masjid, serta membangun kesadaran bahwa setiap individu memiliki peran dalam memajukan masyarakat.
Pandangan serupa disampaikan oleh Alfatahar yang hadir sebagai guest star dalam ESP #10. Baginya, pengabdian adalah proses dua arah. Relawan memang datang untuk berbagi ilmu dan pengalaman, tetapi pada saat yang sama mereka juga belajar tentang kehidupan, ketulusan, dan arti kebersamaan dari masyarakat yang mereka temui.
Di Kalaodi, pengabdian akhirnya menemukan makna yang lebih luas. Ia bukan sekadar program kerja atau agenda sosial yang berakhir ketika relawan pulang. Pengabdian adalah tentang membangun hubungan, menumbuhkan harapan, dan meninggalkan jejak manfaat yang terus hidup di tengah masyarakat.
Dan ketika satu ekor sapi serta dua ekor kambing kurban berhasil disembelih di sebuah desa yang sebelumnya nyaris tak memiliki hewan kurban, di situlah pengabdian menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus paling bermakna. (Redaksi)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!