Pada tahun ini, fokus pembelajaran diarahkan pada dua bahasa utama: Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin. Pilihan ini disesuaikan dengan kebutuhan global sekaligus relevansi dengan perkembangan ekonomi di kawasan timur Indonesia.
Program ini juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah melalui Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Halmahera Tengah. Dukungan tersebut menjadi sinyal bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak lagi hanya bertumpu pada pendidikan formal, tetapi juga melalui jalur alternatif yang lebih fleksibel.
Bagi para peserta, Pare bukan hanya tempat belajar, tetapi ruang perjumpaan dengan beragam latar belakang, budaya, dan cara pandang. Di sana, mereka akan hidup dalam lingkungan yang menuntut penggunaan bahasa asing dalam keseharian. Sebuah pengalaman yang sering kali mengubah cara mereka melihat diri sendiri dan masa depan.
Bakir berharap, pengalaman ini tidak berhenti sebagai cerita perjalanan semata.
“Yang terpenting bukan hanya mereka bisa berbahasa, tetapi bagaimana ilmu itu dibawa pulang dan memberi dampak bagi daerah,” katanya.
Di ujung perjalanan nanti, para siswa ini akan kembali ke Halmahera Tengah dengan lebih dari sekadar kemampuan linguistik. Mereka membawa perspektif baru, tentang dunia, tentang peluang, dan tentang peran yang bisa mereka ambil di tanah sendiri.
Dari Weda ke Pare, langkah kecil itu mungkin tampak sederhana. Namun bagi 70 anak muda ini, ia adalah awal dari perjalanan panjang menuju masa depan yang lebih terbuka. (RJ/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!