Dua nelayan, Alwi dan Ali, yang berada di lokasi kejadian, mengungkapkan bahwa saat insiden terjadi terdapat beberapa perahu nelayan yang sedang beraktivitas. “Kami sementara memancing, ada beberapa perahu nelayan di sekitar,” ujar Alwi.
Ia menuturkan, para nelayan telah berupaya memberikan peringatan dengan menggunakan lebih dari enam senter agar kapal menjauh. Namun, upaya tersebut diduga tidak direspons oleh pihak kapal.
“Sudah kami kasih kode pakai senter, tapi tidak dihiraukan,” katanya.
Akibat kejadian tersebut, satu perahu nelayan mengalami kerusakan parah. Perahu itu diketahui merupakan bantuan Pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) pada 2026.
Kerusakan itu tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga mengganggu aktivitas melaut nelayan yang bergantung pada perahu tersebut.
Para nelayan mendesak Pemkot Ternate dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara segera mengambil langkah tegas guna menjamin keselamatan dan keberlangsungan mata pencaharian mereka. Mereka juga meminta Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) memperjelas batas wilayah labuh kapal tanker agar tidak memasuki area tangkap nelayan.
“Kami minta syahbandar memperjelas wilayah labuh kapal tanker agar keselamatan nelayan tidak terus terancam,” ujar Alwi.
Nelayan juga mendesak adanya sanksi tegas terhadap pemilik maupun nahkoda kapal tanker tersebut. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait. (RFN/Red2)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!