Ternate , Maluku Utara – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Maluku Utara, mencatat nilai tukar rupiah melemah 0,56 persen (titik persen terhadap periode/TPT) pada 18 Februari 2026 dibandingkan posisi akhir Januari 2026. Berdasarkan data terkini, rupiah berada di level Rp16.880 per dolar AS.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Maluku Utara, Handi Susila, menyampaikan pelemahan tersebut dalam kegiatan “Kie Raha Economic Forum” yang digelar di Kantor Perwakilan BI Maluku Utara, Jumat (27/2/2026).
“Nilai tukar rupiah pada 18 Februari 2026 tercatat sebesar Rp16.880 per dolar AS, melemah 0,56 persen (TPT) dibandingkan dengan level pada akhir Januari 2026,” ujar Handi.
Menurutnya, pelemahan rupiah terutama dipengaruhi tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global serta meningkatnya permintaan valuta asing (valas) dari korporasi domestik. “Kondisi ini utamanya dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian pasar keuangan global dan meningkatnya permintaan valas korporasi domestik sejalan dengan kenaikan kegiatan ekonomi,” katanya.
Ia menjelaskan, dinamika global yang belum sepenuhnya stabil mendorong pelaku pasar bersikap lebih berhati-hati sehingga berdampak pada pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Di sisi lain, peningkatan aktivitas ekonomi domestik turut mendorong kenaikan kebutuhan valas untuk pembayaran impor bahan baku dan pemenuhan kewajiban luar negeri korporasi.
Meski demikian, BI memastikan akan terus memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian. Koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait juga terus dilakukan untuk memitigasi dampak gejolak global terhadap stabilitas sistem keuangan, baik di tingkat daerah maupun nasional. (*RFN/Red2)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!