Harga Kelapa Halmahera Utara Terus Menyusut, PT NICO Singgung Pasar Global dan Kewenangan Pemerintah

Ekspor Menyusut, Negara Tujuan Berkurang

Sejumlah pengepul di Galela menduga penurunan harga berkaitan dengan melemahnya permintaan pasar internasional. Salah satu pengepul menyebut jumlah negara tujuan ekspor produk PT NICO berkurang.

“Sebelumnya ada sekitar lima negara yang ambil produk. Sekarang tinggal tiga. Permintaan luar negeri menurun, otomatis harga di sini ikut turun,” ujarnya.

Namun, para pengepul mengaku tidak pernah menerima penjelasan resmi dari perusahaan mengenai alasan penyesuaian harga. Informasi perubahan harga, kata mereka, lebih sering diperoleh dari sesama pengepul. “Ini sudah penurunan yang kelima. Alasannya tidak pernah disampaikan secara resmi,” kata pengepul lainnya.

Harga Dasar Rp 2.500, Petani Terima Lebih Rendah

Saat ini, PT NICO menetapkan harga dasar sekitar Rp 2.500 per buah. Namun setelah dikurangi biaya operasional, seperti upah buruh, ongkos angkut kendaraan viar, dan biaya lain yang rata-rata sekitar Rp 100 per komponen, harga yang diterima petani menyusut.

BACA JUGA  AJM Kecam Keras Pernyataan Kontroversi Wakil Ketua II DPRD Morotai

Di tingkat pengepul, harga bervariasi antara Rp 2.000 hingga Rp 2.500 per buah, tergantung biaya masing-masing.

Para pengepul membandingkan kondisi saat ini dengan periode sebelumnya ketika harga sempat mencapai Rp 2.900 per buah saat kunjungan Menteri Pertanian beberapa waktu lalu. Saat itu, petani masih bisa menerima Rp 2.500 hingga Rp 2.700. “Terakhir tanggal 13 kemarin sudah penurunan kelima. Dulu saya beli Rp 2.700, sekarang jauh turun,” ujar seorang pengepul.

BACA JUGA  Ini Data Pasokan dan Kebutuhan Pangan untuk Kota Ternate 2 Bulan Terakhir

Petani Desak Transparansi Harga

Para pengepul berharap perusahaan lebih terbuka terkait mekanisme penetapan harga agar mereka dapat menjelaskan situasi pasar kepada petani secara jelas. “Kalau alasannya jelas, kami juga bisa sampaikan ke petani supaya tidak ada salah paham,” kata salah satu pengepul.

Terkait ini, Humas PT NICO Deli Tawaris mengakui harga memang bergerak dinamis mengikuti pasar internasional. “Kadang turun, kadang naik. Itu tergantung harga komoditas di pasar global,” ujarnya.

Bagi masyarakat pesisir di Halmahera Utara, kelapa merupakan sumber penghasilan utama. Ketika harga jatuh, daya beli ikut tertekan. Petani kini berharap harga kembali stabil agar roda ekonomi desa tetap berputar. (RR/Red)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah