Subsidi Transportasi Dinilai Strategis
Dalam konteks itu, Chairullah menilai subsidi transportasi sebagai salah satu opsi kebijakan yang efektif untuk mendorong pengembangan ekonomi daerah.
Berdasarkan simulasi kebijakan yang dipaparkannya, apabila pertumbuhan ekonomi sektor kelautan dapat dijaga pada kisaran 7,5 persen, maka arus kargo akan meningkat. Peningkatan volume tersebut berimplikasi pada penurunan biaya transportasi laut dan biaya logistik maritim secara bertahap.
Efek lanjutannya adalah stabilisasi harga dan pengendalian inflasi daerah. “Intervensi fiskal melalui subsidi transportasi memiliki dampak sistemik terhadap stabilitas harga dan integrasi pasar antarpulau,” tegasnya.
Kajian subsidi penyeberangan menggunakan pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA) turut memperkuat argumen tersebut. Hasil analisis menunjukkan masih terdapat ruang perbaikan dalam optimalisasi biaya operasional dan jumlah perjalanan (trip), sehingga skema subsidi dapat diarahkan untuk meningkatkan pendapatan sekaligus efisiensi layanan.
Resiliensi Bahari: Lebih dari Sekadar Ketahanan Iklim
Chairullah menekankan bahwa resiliensi bahari tidak cukup dimaknai sebagai ketahanan fisik terhadap ancaman perubahan iklim. Lebih dari itu, resiliensi harus dipahami sebagai kemampuan sistem ekonomi maritim untuk beradaptasi dan tetap stabil di tengah tekanan global.
Tanpa integrasi kebijakan fiskal, logistik, dan tata kelola adaptif, menurutnya, wilayah kepulauan seperti Maluku Utara akan terus menghadapi disparitas harga, lemahnya integrasi pasar, serta rendahnya daya saing regional.
“Oleh karena itu, integrasi kebijakan fiskal, logistik, dan tata kelola yang adaptif menjadi kunci dalam memperkuat daya tahan ekonomi wilayah kepulauan seperti Maluku Utara,” pungkasnya. (RFN/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!