Sektor Pertambangan Picu Pertumbuhan Perekenomian Malut

Dari sisi sektoral, transportasi dan pergudangan menjadi penyumbang terbesar penerimaan pajak dalam negeri dengan kontribusi mencapai 42,51 persen. “Sementara dari perpajakan internasional, penerimaan bea masuk tercatat sebesar Rp 384,81 miliar, didorong peningkatan impor barang modal, khususnya untuk keperluan pengolahan nikel, serta bahan baku mineral pembangkit listrik tenaga panas bumi,” sambung Sakop.

BACA JUGA  Gunung Dokuno Semburkan Asap Hitam, Aktivitas Warga Halut Tetap Normal

Sedangkan dari sisi belanja, realisasi telah mencapai Rp 10.982,09 miliar dari pagu Rp 18.405,29 miliar, mengalami kontraksi 2,38 persen (yoy), sehingga mencatatkan defisit sebesar Rp 8.138,53 miliar.

“Penurunan ini dipengaruhi oleh kebijakan efisiensi pada Belanja Pemerintah Pusat (BPP). Sementara belanja Transfer ke Daerah (TKD) mengalami kenaikan 5,43 persen (yoy) disebabkan oleh kenaikan pada komponen DBH 42,86 persen, sementara komponen lainnya mengalami penurunan,” pungkasnya. (RFN/Red)

BACA JUGA  Pedagang Pasar Percontohan Sulap Lantai II Jadi Kos-Kosan, Kadisperindag Ternate : Hari Ini Kita Bongkar
chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah