Sektor Pertambangan Picu Pertumbuhan Perekenomian Malut

Namun demikian, pesatnya pertumbuhan ini belum sepenuhnya inklusif. Beberapa tantangan sosio-ekonomi yang masih perlu diatasi antara lain kenaikan TPT menjadi 4,26 persen dengan TPAK yang masih rendah 1,11 persen, penurunan NTP menjadi 106,55, dan kenaikan rasio gini yang berpotensi meningkatkan ketimpangan ekonomi sebesar 0,299.

“Dinamika ini menegaskan bahwa pertumbuhan tinggi berbasis sumber daya alam perlu dibarengi kebijakan yang mendorong pemerataan manfaat, termasuk mitigasi dampak sosial dan ekologis dari ekspansi industri ekstraktif,” jelas Sakop.

BACA JUGA  FAO Masuk Maluku Utara, Cengkeh dan Pala Jadi Fokus Konservasi Dunia

Sementara itu dari sisi fiskal, menurutnya, kinerja APBN regional Maluku Utara terus menunjukkan kinerja positif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Hingga akhir Agustus 2025, pendapatan negara mencapai Rp 2.843,56 miliar atau 74,83 persen dari pagu, mengalami pertumbuhan sebesar 33,21 persen (yoy). “Kontribusi utama berasal dari penerimaan PPh Non-Migas sebesar Rp 1.114,67 miliar atau 33,33 persen (yoy),” tambahnya.

BACA JUGA  Belajar dari Kelurahan Salero, Atasi Sampah jadi Karya Produktif
chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah