Bisnis yang Dimiliki Sherly Tjoanda
Warisan bukan satu-satunya sumber kekayaan Sherly Tjoanda. Ia juga mendapatkan kekayaan dari berbagai usaha yang dibangun bersama mendiang suaminya.
Berikut beberapa bisnis utama yang menjadi sumber hartanya:
1. Hotel Bela Ternate
Benny Laos mendirikan hotel bernama Bela Ternate pada 19 Desember 2007 di bawah naungan Bela Group, yang awalnya merupakan franchise hotel Amara dari Singapura.
Kemudian, pada 1 Oktober 2016, hotel ini menjalani rebranding menjadi Grand Dafam Bela Ternate, sebuah hotel berbintang empat yang kini menjadi salah satu akomodasi mewah di Maluku Utara.
2. Bisnis Pelayaran
Selain properti, Benny Laos juga merambah ke sektor pelayaran. Usaha ini bergerak di bidang jasa pengiriman barang dan kargo.
Untuk mendukung bisnisnya, ia membeli kapal kargo yang dioperasikan di bawah nama Bela Group, yang diambil dari inisial namanya.
3. Industri Perikanan
Bela Group juga mengembangkan bisnis di sektor perikanan. Perusahaan ini fokus pada pengelolaan dan ekspor tuna dalam cold storage ke pasar internasional, khususnya Amerika Serikat.
Dengan hasil laut yang melimpah di Maluku Utara, bisnis ini menjadi salah satu penyumbang besar dalam pundi-pundi kekayaan Sherly Tjoanda.
Dengan kombinasi warisan dari suaminya serta bisnis yang masih terus berjalan, tak heran jika Sherly Tjoanda menjadi kepala daerah dengan kekayaan paling besar di Indonesia saat ini.
Hotel, pelayaran, dan perikanan adalah tiga sektor utama yang menopang kekayaannya.
Selain bisnis hotel, pelayaran, dan perikanan, bisnis Sherly Tjoanda juga merambah ke sektor pertambangan. Dari informasi yang beredar, Sherly mempunyai sejumlah bisnis pertambangan yang tersebar di sejumlah daerah di Maluku Utara.
- PT Sambaki Tambang Sentosa (STS), yang bergerak di sektor pertambangan nikel. Lokasinya berada di Maba, Halmahera Timur. Perusahaan tersebut dikaitkan dengan Sherly Tjoanda.
- PT Wijaya Karya yang bergerak di pertambangan nikel. Lokasinya berada di Pulau Gebe, Halmahera Tengah. Perusahaan tersebut mendapatkan perpanjangan waktu operasi penambangan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tepat ketika Sherly telah menduduki kursi empuk sebagai Gubernur Maluku Utara.
- PT Bela Sarana Permai di Pulau Gebe, yang bergerak di bidang pertambangan pasir besi dan mineral di Desa Wooi, Pulau Obi, Halmahera Selatan. Perusahaan ini memiliki konsesi seluas 4.290 hektar yang menduduki wilayah Wooi.
- PT Amazing Tabara. Perusahaan tambang emas ini memiliki konsesi seluas 4.655 hektar di Desa Sambiki Aer Mangga, Sambiki, dan Anggai, Pulau Obi, Halmahera Selatan. Izin usaha pertambangan (IUP) dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara pada tahun 2018. Namun, pada April 2022, Kementerian Investasi/BKPM mencabut IUP perusahaan ini karena tidak memenuhi kewajiban pelaporan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta dugaan pelanggaran lingkungan.
- PT Indonesia Mas Mulia (IMM). Perusahaan ini bergerak di sektor pertambangan emas. PT IMM memiliki konsesi seluas 4.800 hektare di Desa Yaba, Kecamatan Bacan Barat Utara, Halmahera Selatan.
- PT Bela Kencana. Perusahaan tambang nikel lainnya yang dikaitkan dengan Sherly Tjoanda. Seperti PT Bela Kencana, detail spesifik mengenai lokasi dan luas konsesi tidak dijelaskan secara rinci. Namun, keterlibatan Sherly dalam perusahaan ini telah dilaporkan oleh Jaringan Advokasi Tambang (JATAM). ***

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!