Selain bantuan itu, BNPB juga telah memberikan bantuan berupa makanan, minuman, dan selimut untuk masyarakat terdampak di Halmahera Selatan.
Lebih lanjut Suharyanto menyampaikan bahwa setelah tanggap darurat, pihak BNPB bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota akan memberikan bantuan anggaran pascabencana. Ia mengemukakan bahwa setelah bencana tahun 2024 lalu, pemerintah pusat melalui BNPB telah membantu lima kabupaten dan satu kota, dan proyek tersebut kini sedang dikerjakan dengan progres fisik antara 10 hingga 30 persen. “Kami berharap di akhir tahun 2026, proyek ini bisa selesai,” tutur Suharyanto.
Dalam rapat tersebut, Kepala BNPB dan Gubernur juga membahas mengenai ancaman letusan gunung di Maluku Utara. Suharyanto mencatat ada sekitar lima gunung yang memerlukan perhatian, dengan dua di antaranya, yaitu gunung Ibu dan Dukono, sedang mengalami letusan. “Kita harus ingat bahwa bencana tidak bisa dicegah, tetapi dampaknya harus terus dikurangi,” jelasnya.
Sementara Gubernur Sherly Tjoanda mengakui upaya Pemprov dalam menangani bencana di enam daerah. Namun, ia juga mencatat bahwa sumber daya fiskal pemerintah daerah saat ini tengah menipis. “Kami meminta bantuan ke BNPB bukan karena kami lemah, tetapi untuk kolaborasi agar kebutuhan masyarakat yang terdampak dapat terpenuhi,” ungkap Sherly.
Ia pun berharap dengan adanya proyek multiyears dalam waktu tiga tahun ke depan, langkah pencegahan terhadap bencana bisa terlaksana secara efektif. “Saya percaya, dengan dukungan dari BNPB, program pencegahan ini dapat diwujudkan,” tambahnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!