Sebelumnya, akademisi dari IAIN Ternate, Agus Salim Bujang, mengatakan bahwa tingginya kasus HIV/AIDS di Kota Ternate harus ditangani dengan menyentuh akar persoalan. Salah satunya keberadaan pekerja seks komersial (PSK) yang perlu ditertibkan secara serius melalui kerja sama dengan Dinas Kesehatan, Satpol Pamong Praja, pengelola hotel dan penginapan.
Antropolog yang melihat PSK merupakan persoalan global yang sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu itu, juga menyarankan Pemerintah Kota Ternate agar melibatkan tokoh-tokoh masyarakat di tingkat bawah, seperti ketua RT dan RW untuk mengawasi dan menertibkan PSK di lingkungannya masing-masing.
“Yang harus diberi perhatian dan kewenangan untuk melakukan penertiban di tingkat bawah adalah para ketua RT dan RW, sebab merekalah yang paling mengetahui kondisi lingkungan tempat mereka tinggal. Cobalah Pemerintah Kota Ternate memberdayakan ketua RT dan RW,” terangnya, Jumat (2/5/2025) lalu.
Senada dengan Agus, Hamida juga menegaskan pentingnya sinergitas semua pihak untuk menekan kasus HIV/AIDS yang terus meningkat. Tidak bisa dilakukan sendiri oleh tenaga kesehatan. “HIV ini bukan hanya tugas tenaga kesehatan. Kalau hanya orang kesehatan yang bekerja, kasus ini tidak akan pernah selesai,” tegasnya.
Olehnya itu, pihaknya sudah bekerja sama dengan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di antaranya Yayasan Batang Plus, Yayasan Pelangi Maluku, dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). “Kami bersinergi untuk menekan penyebaran HIV di Kota Ternate. Mari kita bersama-sama melawan penyebaran HIV,” pungkas Hamida. (Mg01/Red2)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!