Ternate, Maluku Utara- Jika anda wisatawan lokal, tentu wisata Batu Angus di Kelurahan Kulaba Kota Ternate sudah tak asing lagi. Geowisata yang terletak di kaki gunung Gamalama ini tak hanya dikenal di domestik saja, namun hingga ke manca negara.
Penamaan Batu Angus sendiri diambil dari cerita letusan gunung Gamalama pada tahun 1737 dan tahun 1907 silam. Letusan gunung api jenis stratovolcano kerucut ini mengakibatkan bencana yang mengerikan hingga menelan korban jiwa yang sangat besar.
Kala itu, Pulau Ternate masih dikuasai Portugis yang memonopoli perdagangan rempah. Letusan Gamalama ini menyebabkan perubahan kontur wilayah Ternate yang masih dapat disaksikan hingga kini. Salah satu bukti nyata dari dahsyatnya letusan gunung Gamalama adalah obyek geowisata yang dikenal dengan Batu Angus.
Potensi ini bahkan menarik perhatian Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) di tahun 2020 lalu untuk menyusun road map menuju Geopark. Pada tahun 2021, pemetaan detail keragaman geologi yang disusun tim IAGI dinyatakan selesai dan selanjutnya dokumen tersebut diusulkan menjadi Geopark Nasional.
Destinasi wisata ini bahkan menarik perhatian Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Menparekraf, Sandiaga Uno dalam kunjungannya ke Batu Angus, Kamis (16/06/2022) tadi mengatakan, pemerintah pusat telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Pedoman Teknis Pengembangan Geopark sebagai destinasi pariwisata. Pedomam tersebut harus memenuhi prinsip-prinsip pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.
“Membangun Geopark sebagai destinasi pariwisata tidak perlu banyak mengeluarkan biaya, saya sangat mendukung batu angus sebagai Geopark secara Nasional,” katanya.
Menurut Sandiaga, Geopark tidak hanya tertuang dalam kertas. Namun tujuannya untuk pelestarian lingkungan, konservasi, edukasi dan kesejahteraan masyarakat.
Meski begitu, melalui standar UNESCO, Geopark wajib mengedepankan konservasi dan edukasi yang dikelola dengan mengedepankan pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.
“Jadi jangan sampai mereka justru terpinggirkan. Di lokasi kawasan geopark harus didukung pengembangan kekuatan pariwisata nasional yang mengedepankan budaya setempat,” ucapnya.
Sandiaga menambahkan, pengembangan geowisata juga harus melibatkan UMKM dan wisata alam lainya yang terintegrasi dan terimplementasi dengan baik.
Maluku Utara, katanya, berhasil menembus 50 besar desa wisata terbaik. Oleh karena itu pemerintah daerah perlu mendorong mengembangkan sektor wisata yang ada di sekitar Batu Angus. Sebab, kata Sandiaga, objek ini akan menopang dan memberdayakan masyarakat serta membuka lapangan kerja.
Program Indonesia Spice Up The World, lanjut Sandiaga Uno, adalah salah satu program yang dikenalkan pemerintah Indonesia yang melibatkan lintas kementerian/lembaga, sebagai salah satu upaya meningkatkan pemasaran produk bumbu atau pangan olahan dan rempah Indonesia. Terutama di Afrika, Australia, dan negara potensial lainnya. Sehingga berbicara tentang rempah-rempah, tentu ada kaitannya dengan Ternate.
Saat ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah menjalin mitra di 4.000 restoran Indonesia di luar negeri untuk mendorong program Indonesia Spice Up The World tentunya.
“Siap-siap Kota Ternate untuk berbenah, karena 4.000 restoran ini akan menjadi ujung tombak pemasaran, baik dari pariwisata maupun produk-produk ekonomi kreatif kita. Termasuk kita akan menyasar ekspor rempah sebesar USD 2 Miliar di tahun 2025,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bappelitbagda Kota Ternate, Rizal Marsaoly mengakui Batu Angus kini masuk aspiring skala nasional, sehingga menunggu tim penilaian untuk melakukan verifikasi faktual sebagai bahan untuk diusulkan ke UNESCO, badan PBB yang menangani warisan sejarah dunia.
“Untuk menembus UNESCO memerlukan beberapa tahap dan prosesnya pun cukup ketat. Banyak pembenahan yang perlu dilakukan, termasuk beberapa fasilitas yang akan dibenahi pada tahun ini,” kata Rizal.
Rijal mengatakan, Kota Ternate memiliki sebanyak 32 geosite, salah satunya adalah Batu Angus. Olehnya itu akan dikembangkan secara bersama-sama dengan tagline Pulau Gunung Api. Meski begitu, Rizal berharap mendapatkan dukungan dari UNESCO atau anggaran melalui APBN untuk pembenahan fasilitas wisata ini.
“Menparekraf, Sandiaga Uno juga berharap ini bukan sekedar geopark di atas kertas, tetapi tiga pilar untuk penopang geopark harus diutamakan, di antaranya konservasi, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi secara berkelanjutan terutama UMKM,” pungkasnya. (Arul-2)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!