Ternate, Maluku Utara- Dampak kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tidak hanya dirasakan oleh pedagang di kota-kota besar seperti Jakarta, Manado dan Makassar, namun juga dirasakan oleh pedagang di Kota Ternate Maluku Utara.
Pemberlakuan PPKM dan pembatasan aktifitas malam di Kota Ternate sangat mengancam usaha pedagang kaki lima.
Paling tidak, ini dikeluhkan Risal Taib, salah satu pedagang pakaian di pasar Gamalama, saat ditemui Haliyora, Selasa (27/07/2021).
Risal mengatakan, selama diberlakukan PPKM di Kota Ternate, dagangannya nyaris tak laris lantaran kurang pembeli. Bahkan kata dia, dirinya mengalami kerugian total selama PPKM. “Kerugian hampir mencapai 100 persen. Sebeulum PPKM pemasukan kami di kisaran Rp 1 juta per hari, namun sekarang ini maksimal Rp 300.000. Itupun jarang-jarang (nasib-nasib),” keluhnya.
Dikatakan, beberapa rekannya bahkan sudah tutup usahanya. “Beberapa petak milik rekan saya di sini (Pasar Gamalama Baru) yang juga penjual pakaian pun sudah tutup karena sepi pembeli,” cerita Risal.
Menurut Risal, jika PPKM terus belanjut, maka pemerintah harus mencari cara untuk mengatasi dampaknya terhadap keberlangsungan kegiatan ekonomi pedagang kaki lima.
Keluhan yang sama juga disampaikan rekan seprofesi Rolisal yang tidak mau menyebutkan namanya. Ia juga mengeluhkan penunurunan pendapatan sangat drastis saat diberlakukannya PPKM. Ia seakan pesimis membayangkan nasib keluarganya jika PPKM terus berlanjut.
“Kalau PPKM terus diberlakukan, bagaimana nasib keluarga kami. Kami tidak punya pendapatan lain selain berharap hasil penjualan kami ini,” keluhnya. (Boy-1)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!