Haliyora
“Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah sebaik-baik bumi Allah, dan bumi yang paling Allah sayangi. Kalaulah bukan karena dipaksa ke luar, maka aku tidak akan meninggalkan engkau.” (HR. At-Tirmidzi)
Makkah adalah kota suci bagi kaum muslimin (Al-ashimah Al-muqadasah). Kota ini terletak di sebelah barat Kerajaan Arab Saudi di tanah Hijaz, dikelilingi gunung-gunung tinggi, berada di ketinggian 300 meter dari permukaan laut. Terletak sekitar 400 kilometer arah barat daya Kota Madinah, atau sekitar 120 kilometer dari arah timur Kota Thaif, atau sekitar 72 kilometer dari Kota Jeddah dan pantai Laut Merah.
Secara struktural, pemerintahan Kota Makkah dipimpin oleh seorang Walikota atau disebut amir. Pengangkatan amir, dilakukan dan disahkan oleh Raja Arab Saudi yang dibantu Majelis Dewan Kota, terdiri dari 14 anggota.
Kota ini merupakan kota kelahiran baginda Nabi Muhammad Saw. Makkah juga termasuk kota yang disumpahi Allah.
Kata Makkah berarti tamukul fajiru atau tukhrijuhu wa tuhlikuhu, yang bermakna terusirnya orang kafir, sebagaimana disebutkan dalam Al Quran : “Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Fath :24)
Makkah juga disebut dengan nama Bakkah, yang bermakna tabuku a’nakul jababirah, artinya teriakan dari yang perkasa, atau berarti tunduk. Nama ini mengisyaratkan pada tempat yang penuh dengan barakah. Sebagaiman dijelaskan dalam Al-Quran : “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.” (QS. Ali-Imran : 96)
Imam Sihabudin Mahmud Al-Alusi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang-orang yahudi mengatakan, Baitul Maqdis lebih mulia daripada Baitullah (Ka’bah). Orang Islam kala itu membantah dan menegaskan Baitullah lebih agung. Ternyata berita ini sampai kepada Nabi Muhammad Saw, kemudian turunlah ayat: “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (diantaranya) maqam Ibrahim, barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menajdi amanlah dia, mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya(tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran ;97)
Selanjutnya, Imam Al-Alusi menambahkan, ayat ini mengisyaratkan adanya keharusn untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim AS, dan Nabi Ismail AS yang membangun Baitullah atas perintah Allah SWT. (Dikutip dari buku Peradaban Islam Makkah, yang ditulis Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec)…

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!