5.000 Spesimen Menunggu Giliran Test Swab, 2.500 ada di Ternate

  • Whatsapp

Ternate, Haliyora.com

Akhir-akhir ini banyak pasien Covid-19 mengeluhkan lamanya waktu menunggu hasil tes swab untuk mengetahui kondisi kesehatannya.

Bacaan Lainnya

Di Maluku Utara sendiri hingga 13 Juli 2020 dilaporkan masih terdapat 5.000 spesimen yang belum diswab. Dari jumlah tersebut sebanyak 2.500 pesien asal Kota Ternate.

Untuk mempercepat pemeriksaan spesimen pasien Covid-19, Pemerintah Pusat melalui BNPB dan Menkes menyumbangkan dua mesin PCR kepada Gugus Tugas Covid-19 Maluku Utara.

Kedua mesin pendeteksi virus itu, diterima pemerintah Provinsi Malut masing-masing pada akhir Juni dan awal Juli 2020 lalu. Namun, sampai sekarang kedua mesin tersebut belum dapat difungsikan.

Kepala Pengelolaan dan penanggulangan jawab laboratorium, RSUD Chasan Boesoirie Ternate, Dokter Fasni Halil pada konferensi pers di hotel sahid Bela Ternate, kamis (16/07/2020), menjelaskan mesin PCR belum digunakan karena terkendala oleh tiga faktor yakni alat pendukung, ruangan dan SDM.

“Kita masih butuh beberapa alat pendukung untuk memfungsikan mesin PCR secara maksimal. Kita juga butuh tenaga ahlinya untuk mengoperasikan alat tersebut. PCR itu kan tidak semudah mengoperasikan komputer dan laptop. Ada tiga hal yang harus kita siapkan, pertama kesiapan ruangan, perlatan penunjang dan SDM,” terang Fasni.

Terkait ketersediaan ruangan, Fasni mengatakan, ruangan yang disiapkan Rumah Sakit Chasan Boesorie saat ini baru sebatas kebutuhan Tes Cepat Molukuler (TCM).

Menurutnya, ruang yang digunakan untuk PCR dan TCM itu berbeda.

“Sebenarnya saat kami mendapatkan alat tersebut, kami sudah siapkan ruangannya sesuai standar. Tapi peralatan penunjang seperti mesin ekstraktor belum tersedia, sehingga jika alat PCR itu tetap dioperasikan, maka proses ekstraksinya harus dilakukan secara manual, alat-alat penunjang lainnya masih banyak yang kurang,”jelasnya.

Fasni menyebutkan beberapa alat penunjang PCR lain yang dibutuhkan adalah leminar flow, pipet otomatis dan lain-lain. “pokoknya segala macam alat penunjang untuk mengoperasikan mesin PCR,”ungkap Fasni.

Sedangkan mengenai ketersediaan SDM, ia mengaku Ahli Teknologi Laboratorium Medis (ALTM) di RSUD Chasan Boesoerie belum memiliki pengalaman menggunakan alat PCR.

“Kami punya tenaga ATLM, namun tenaga tersebut selama ini belum pernah memgoperasikan PCR, jadi tentunya tenaga ini kami juga harus siapkan, karena saya bilang tadi, bahwa PCR ini bukan seperti alat hematologi biasa yang biasa kami gunakan, atau alat pemeriksaan kimia biasa atau alat imunologi,”imbuh Fasni

Meski masih ada kekurangan alat dan tenaga ahli, namun pihak RSUD Chasan Boesoeri berupaya keras menutupi kekurangan di laboratorium agar dapat melakukan pemeriksaan specimen.

“Kami kerja mempersiapkan laboratorium itu kurang lebih sudah dua minggu, padahal kalau saya tanya teman-teman lain untuk sampai beroperasi, butuh waktu sampai lima minggu. Jadi kemarin tanggal 13 kami sudah bisa runing, walau pun alat yang kami terima ini bukan alat PCR dengan well atau sumur yang banyak,”tutur Fasni.

Lebih lanjut Fasni menjelaskan, mesin PCR yang diterima itu bermerk Mygo Pro dengan 32 sumur. Katanya, sekali running membutuhkan waktu dua jam untuk ektraksi manual dan satu jam setengah untuk PCR. “Jadi total sampai hasil itu keluar lebih 3 jam,”terangnya.

Ia menambahkan, pertama kali tiba, alat itu diberikan bersama-sama dengan reagen ekstraksi dan reagen PCR dan VTM (Viral Transport Medium).

Selain menerima satu unit alat PCR dari BNPB, RS Chasan Boesoiri juga menerima bantuan satu unit alat PCR yang diserahkan langsung oleh Menkes Terawan saat berkunjung ke Kota Ternate beberapa waktu lalu.

Kata dia, alat itu pernah dicoba oleh tim laboratorium RS Chasan Boesoeri untuk memeriksa 90 sampel, tetapi hasilnya belum bisa dilaporkan karena alat itu belum memiliki izin sebagai jejaring PCR untuk pemeriksaan covid-19. “Kendala tersebut kami telah layangkan surat ke Litbangkes,” ungkapnya.

Fasni juga mengatakan, sampai tanggal 13 Juli 2020, masih ada lima ribuan spesimen. Khusus Kota Ternate sebanyak 2.500 spesimen, sedangkan sisanya milik kabupaten/kota lainnya di Maluku Utara. “Pemeriksaan spesimen ini didahulukan bagi yang bersifat urgen,”pungkasnya. (Jae)

Pos terkait