Kisah Roger di Morotai: Membagi Kardus dan Lembaran Koran di Hari Raya, Merawat Toleransi Lintas Iman

Daruba, Maluku Utara – Sabtu pagi (21/3/2026), langit Daruba masih menyisakan semburat lembut fajar ketika gelombang manusia mulai mengalir menuju Lapangan MTQ, Desa Darame. Takbir menggema bersahutan, mengisi udara dengan nuansa syahdu khas Hari Raya Idul Fitri. Ribuan umat Muslim dari berbagai penjuru Pulau Morotai datang sejak dini hari, menapaki jalanan kota dengan satu tujuan, menunaikan Shalat Id.

Di tengah lautan jamaah yang memadati lapangan, ada satu pemandangan yang tak biasa, sekaligus diam-diam menyentuh. Seorang pria bersama anaknya berjalan menyusuri barisan jamaah, membawa tumpukan kardus dan lembaran koran. Mereka berhenti dari satu titik ke titik lain, membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan.

BACA JUGA  Belum Lama di Aspal, Ruas Jalan Wayabula Morotai Sudah Rusak Parah

Pria itu bernama Roger Manawan. Ia bukan bagian dari jamaah yang bersiap menunaikan shalat. Ia datang dengan cara berbeda, yakni membantu.

“Saya tidak mencari apa-apa. Ini bentuk kepedulian saja. Setiap tahun selalu ada yang tidak membawa sajadah atau tikar. Semoga kardus dan koran ini bisa membantu,” tuturnya.

Tak ada spanduk, tak ada dokumentasi khusus, apalagi motif yang ingin ditonjolkan. Roger hanya melihat kebutuhan kecil yang kerap luput, lalu memilih untuk hadir mengisinya. Di tengah ribuan orang yang larut dalam ibadah, aksinya nyaris tenggelam, namun justru di situlah maknanya menguat.

BACA JUGA  Horee ! Rp 114 Miliar Anggaran SMI Cair

Menurutnya, langkah kecil itu juga menjadi cerminan kuatnya toleransi antarumat beragama di Pulau Morotai. Ia berharap nilai kebersamaan dan saling menghormati yang telah terbangun dapat terus terjaga.

Beberapa jamaah menerima kardus itu dengan senyum dan anggukan terima kasih. Sebagian lainnya langsung menggelarnya, menjadikannya alas sujud di pagi yang sakral itu. Kardus bekas dan koran lama pun berubah fungsi, dari benda sederhana menjadi jembatan kepedulian.

Lapangan MTQ Daruba Sabtu pagi memang bukan hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga ruang perjumpaan nilai. Di sana, perbedaan tak mencolok, apalagi memisahkan. Yang tampak justru harmoni yang bekerja dalam diam.

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah