Saya ingin melihat Indonesia dari langkah kaki sendiri. Karena kalau dari langkah kaki orang lain, saya selalu curiga. Pikiran itu sering membuat saya tersenyum sendiri.
Soe Hok Gie pernah berkata, “Dunia itu seluas langkah kaki. Jelajahilah dan jangan pernah takut melangkah.” Kalimat itu barangkali sudah terlalu sering dikutip. Tapi justru karena sering itulah, ia menjadi seperti jembatan yang terus memutuskan keraguan.
Maka saya pun nekat. Mengumpulkan keberanian yang tak seberapa, menjual Slank, motor kesayangan saya, Honda C-70. Lalu keluar dari rumah dengan doa dan harap semoga ini tidak sia-sia. Dan semoga Slank betah dengan tuan barunya. Soal menjual motor itu, rasanya seperti minum air garam di tengah laut. Tapi saya sudah ikhlas, dan keikhlasan memang sering lahir dari keterpaksaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Akhir 2025, saya pamit sejenak dari kampung halaman. Modalnya satu, uang hasil menjual motor. Sisanya adalah harap-harap cemas yang disimpan rapi di saku belakang.
Di Ternate, kapal yang akan membawa saya ternyata KM Nggapulu, kapal Pelni yang namanya sering disebut orang ketika pelayaran. Hari itu rupanya Tuhan sedang bercanda. Tiket habis. Yang tersisa hanya kategori non seat, tanpa tempat tidur, tanpa kepastian, tanpa banyak pilihan. Harga tiketnya Rp 750.000 untuk rute Ternate–Surabaya. Saya langsung membayangkan lorong-lorong kapal yang tak akan pernah benar-benar tidur, ramai nantinya.
Tanggal 29 Desember 2025, pukul delapan malam WIT, kapal bergerak meninggalkan Ternate menuju Ambon. Saat pagi datang, tepat tengah Laut Banda, burung-burung beterbangan mendekat, dan beberapa lumba-lumba berenang mengikuti kapal. Mereka seolah menyambut saya yang baru pertama kali melakukan perjalanan jauh. Atau saja mungkin mereka sekadar lewat, dan saya terlalu sentimental untuk menafsirkan.
Pagi itu juga, seorang petugas kebersihan menyapu lorong kapal. Ia memungut sisa makanan, botol kosong, puntung rokok. Wajahnya terlihat marah, tapi marah yang sudah lelah. Saya bukan ahli membaca bahasa tubuh, tapi di kapal yang tempat sampahnya jelas-jelas tersedia, mestinya manusia tak perlu diajari cara bersikap seutuhnya.
Pemandangan itu terulang hampir setiap hari. Kesadaran rupanya masih menjadi barang langka, bahkan di tengah laut yang luasnya tak terbayangkan. Pengeras suara kapal tak pernah lelah mengingatkan: “Mohon kepada seluruh penumpang agar tidak membuang sampah sembarangan.” Tapi suara itu barangkali kalah nyaring dari kebiasaan.
Rute KM Nggapulu akhir Desember ini adalah Ambon, Namlea, Baubau, Makassar, Surabaya, dan berakhir di Tanjung Priok. Penumpangnya ribuan. Dengan skala seperti itu, kapal menyediakan makanan, air botol, dan camilan, semuanya dibungkus plastik, dibagikan tiga kali sehari.
Saat kapal melewati perairan Wakatobi, senja jatuh perlahan di pelukan cakrawala. Ada yang menikmatinya sambil tertawa, ada yang berdiam diri, dan saya, selain mengambil gambar, juga sibuk menghitung botol plastik yang mengapung di laut.
Taruhlah di kapal ada seribu penumpang, tiga kali makan sehari, berarti tiga ribu botol, tiga ribu plastik makanan, tiga ribu bungkus camilan. Itu baru satu hari. Sisanya silahkan hitung sendiri dalam setiap pelayaran kapal Pelni. Ribuan orang di dalamnya. Bayangan, berapa sampah yang dihasilkan.
Dua malam di atas kapal, Baubau akhirnya menyambut. Tepat pukul 23.57 WITA, kapal memasuki Pelabuhan Murhum. Dari kejauhan, patung Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi berdiri tegak, menunjuk ke arah kapal, seakan mengatakan selamat datang.
Langit Baubau malam itu penuh sisa-sisa kembang api. Kabut menggantung di udara. Penumpang berkerumun di pinggir kapal, merekam tahun baru dari balik pagar besi. Di darat, ratusan buruh pelabuhan telah bersiap. Bagi mereka, kapal sandar berarti kerja datang. Tahun baru atau bukan, perut tetap harus diisi.
Di gerbang pelabuhan, patung Sultan Murhum Khalifatul Khamis berdiri melambaikan tangan. Sultan ke-26 Buton, tokoh yang mengubah kerajaan menjadi kesultanan dan menjadikan Buton pusat syiar Islam. Sejarah di kota ini tidak disimpan di buku, tapi dipajang di depan mata.
Kapal sandar hampir tiga jam. Saya keluar membeli keperluan. Harga rokok di Baubau membuat saya mengangguk pelan. Sampoerna 12 batang seharga Rp 30.000. Saya cek tiga warung, hasilnya sama. Rupanya inflasi juga pandai berlayar.
Setelah pergi saya tertawa dan bergumam, “Satu bulan so bisa ba kredit oto.” Agak sentimen, tapi humor selalu lahir dari dompet yang tipis.
Dari Baubau, kapal lanjut ke Makassar. Hujan turun di tengah laut, dingin menyerang tanpa izin. Saya menggigil dan menyerah, masuk ke dalam kapal bersama penumpang lain yang kalah oleh cuaca.
Makassar menyambut sore. Masjid 99 Kubah Asmaul Husna tampak megah dari kejauhan, cantik, indah, dan membuat orang lupa sebentar pada lelah perjalanan.
Dari Makassar ke Surabaya, perjalanan berlanjut. Pukul satu dini hari saya tiba di Tanjung Perak. Karena kereta ke Yogyakarta baru berangkat pukul sepuluh pagi, saya melantai di lorong terminal.
Setelah empat hari di Yogyakarta, perhatian saya tertuju pada emperan jalan. Kota, ternyata, tidak selalu ramah. Kota hanya menyediakan ruang bagi mereka yang punya. Bagi yang dompetnya sering ragu saat dibuka, kota adalah ujian kesabaran, kadang juga mimpi buruk. ***
Penulis : Risal Sadoki
Editor : A. Achmad Yono









