Meskipun jumlah anggota Poktan Emas Hijau hanya enam orang, mereka menunjukkan dedikasi tinggi. Sejak mulai menanam pada 17 Januari 2025 hingga sekarang, semua anggota tetap aktif meski beberapa di antaranya memiliki pekerjaan tetap. “Salah satu anggota kami bekerja pagi-sore sebagai PPPK tapi masih bisa mengelola 5.000 pohon tomat,” tegas Nayan.
Selain fokus pada penanaman, Poktan Emas Hijau juga telah menyediakan pemetaan pasar untuk distribusi hasil panen. Mereka menjalin kemitraan dengan Koperasi Pomakomote Mandiri Jaya, yang mendistribusikan produk ke berbagai daerah seperti Tidore, Ternate, Jailolo, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Morotai, bahkan hingga ke luar daerah seperti Sorong, Papua Barat. Dengan manajemen satu pintu yang menaungi 11 poktan di Tobelo dan Galela, mereka dapat memastikan rantai distribusi yang efisien.
Namun, meskipun pertumbuhan hortikultura sangat menjanjikan, tantangan tetap ada. Nayan mengungkapkan kekhawatirannya terhadap subsidi pemerintah yang lebih terfokus pada penyediaan bibit, sementara pupuk dan obat tanaman seringkali kurang tersedia. “Pemerintah seharusnya memahami kebutuhan petani agar bibit yang didistribusi tidak sia-sia,” keluhnya.
Sebagai salah satu pelopor hortikultural di Halmahera Utara, Nayan mendorong para pemuda untuk mencoba menanam. “Hortikultura memiliki hasil yang sangat menjanjikan. Bagi yang belum punya modal, tanam saja sayuran yang tidak memerlukan biaya tinggi seperti caisim, kangkung, dan bayam. Hanya butuh satu bulan, sudah bisa panen dan hasilnya memuaskan,” tutupnya. (Mg02/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!