Ternate, Maluku Utara – Kalangan akademisi menyoroti sikap diam pihak Pertamina terkait insiden kecelakaan laut di pesisir Kelurahan Sasa, Kota Ternate, Maluku Utara. Peristiwa yang terjadi pada Kamis (16/4) sekitar pukul 23.38 WIT itu melibatkan kapal tanker bermuatan BBM yang dilaporkan menabrak sejumlah nelayan yang tengah memancing.
Dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Asmar Hi. Daud, menilai insiden tersebut dari sisi pelayaran lebih mengarah pada unsur kelalaian ketimbang kesengajaan.
“Dalam standar keselamatan laut, kapal besar wajib menjaga pengamatan (look-out), mampu mendeteksi risiko tabrakan, serta melakukan manuver untuk menghindar,” ujarnya Sabtu (18/4/2026).
Ia menjelaskan, informasi bahwa nelayan telah memberikan sinyal menggunakan senter namun tidak direspons kapal tanker mengindikasikan kemungkinan kesalahan manusia (human error). Faktor tersebut dapat berupa kelalaian awak kapal, kurangnya kewaspadaan, kelelahan kru (fatigue), maupun kegagalan manajemen navigasi di anjungan (bridge).
Secara teknis, lanjutnya, kecil kemungkinan insiden tersebut disengaja karena tindakan menabrak kapal lain justru berisiko besar bagi kapal tanker, baik dari sisi hukum, keselamatan, maupun operasional.
Meski demikian, Asmar menyoroti aspek kemanusiaan dalam kejadian ini. Ia menilai insiden tersebut mencerminkan ketimpangan antara kapal besar dan nelayan kecil, serta lemahnya perlindungan terhadap nelayan di ruang laut yang sama.
“Ini lebih mengarah pada kelalaian serius dalam navigasi, bukan kesengajaan. Namun tetap harus diinvestigasi secara menyeluruh karena menyangkut keselamatan pelayaran dan keadilan bagi nelayan,” tegasnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!