Bobaso Se Rasai Jadi Penyejuk Ketegangan di Halteng, Jalan Damai Didorong Lewat Kearifan Lokal

Ternate, Maluku Utara – Di tengah riak ketegangan sosial yang terjadi di Halmahera Tengah, harapan akan damai kembali disuarakan dari akar budaya masyarakat sendiri. Nilai kearifan lokal “Bobaso Se Rasai” kembali digaungkan, menjadi penyejuk di tengah situasi yang sempat menghangat dan berpotensi memecah harmoni.

Seruan itu datang dari berbagai elemen masyarakat, tokoh adat, pemuda, hingga organisasi kemasyarakatan yang melihat pentingnya menahan diri dan mengedepankan dialog sebagai jalan keluar. Di antara mereka, Sekretaris Umum HIPMI Halmahera Barat, Tiklas Pileser Babua, menegaskan bahwa Maluku Utara memiliki warisan nilai yang kuat dalam menjaga kebersamaan.

“Maluku Utara punya identitas dalam merawat harmoni. Jangan sampai emosi sesaat menghapus nilai yang sudah dijaga turun-temurun,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).

Bagi masyarakat setempat, Bobaso Se Rasai bukan sekadar ungkapan. Ia hidup dalam keseharian, sebuah prinsip yang menempatkan rasa saling memiliki dan saling menghargai sebagai fondasi hubungan sosial. Di dalamnya, tersimpan ajaran tentang empati: kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain, seolah berada dalam satu keluarga besar.

BACA JUGA  Bacok Karyawan Adira Gegara Cicilan Motor, Seorang Pria di Halteng Dibekuk Polisi

Nilai ini pula yang mendorong penyelesaian masalah melalui jalan musyawarah. Bahwa setiap persoalan yang muncul tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi tanggung jawab bersama. Dalam kerangka itu, konflik tidak diselesaikan dengan dominasi, tetapi dengan keterbukaan dan semangat persaudaraan.

Di tengah situasi Halmahera Tengah, berbagai pihak kini mendorong pemerintah daerah untuk membuka ruang dialog yang inklusif bagi pihak-pihak yang bersitegang. Pendekatan yang mengedepankan keamanan semata dinilai belum cukup untuk menjawab akar persoalan, sementara dialog diyakini mampu merawat kepercayaan yang sempat renggang.

BACA JUGA  Seleksi Calon Pimpinan BAZNAS Pulau Taliabu Dipercepat

Peran generasi muda juga menjadi sorotan. Organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan mengingatkan pentingnya sikap bijak dalam menyikapi arus informasi, terutama di media sosial yang kerap menjadi ruang cepat bagi penyebaran kabar yang belum tentu benar.

“Anak muda harus jadi pelopor perdamaian, bukan bagian dari masalah,” kata Tiklas.

Baginya, situasi ini menjadi pengingat bahwa damai bukan sesuatu yang hadir dengan sendirinya. Ia harus dijaga, dirawat, dan diperjuangkan, baik melalui tindakan kecil sehari-hari maupun sikap kolektif sebagai masyarakat.

Di tengah keberagaman Maluku Utara, Bobaso Se Rasai kembali menemukan relevansinya. Ia bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga kompas moral untuk menghadapi tantangan masa kini.

Sebab pada akhirnya, perbedaan bukan alasan untuk terpecah. Justru di sanalah kekuatan untuk tetap bersatu menemukan maknanya. (Redaksi)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah