Kerusakan yang paling mencolok dan mengkhawatirkan adalah pada bagian struktur dan interior. Muhlis menyebutkan bahwa kaca jendela dan atap bangunan menjadi bagian yang paling memprihatinkan.
“Berbahaya itu atap sama kaca, karena ini bisa jadi yang kita takutkan ketika ada pengunjung tiba-tiba kaca dan plafon jatuh, karena untuk kaca dia punya klem sudah putus semua, karena kita takutkan pas angin kencang dari arah laut,” ujarnya.
Lebih parah lagi, kerusakan atap membuat lantai museum kerap kebanjiran saat hujan, serta memicu pertumbuhan rumput dan lumut di dalam area museum. Fasilitas bersejarah ini, yang seharusnya dijaga sebagai warisan dunia, kini menunjukkan tanda-tanda kegagalan dalam pemeliharaan.
Ironisnya, meskipun kondisinya memprihatinkan, Museum Trikora tetap menerima pengunjung setiap harinya, dengan perkiraan mencapai 10 orang per hari. Lokasi ini juga masih sering dijadikan tempat untuk berbagai kegiatan, sebuah bukti bahwa potensi wisata sejarah Morotai sesungguhnya sangat tinggi. Pengunjung mancanegara rata-rata terkesan dengan sejarah yang disajikan, namun sangat berharap agar fasilitasnya segera diperhatikan.
Muhlis dan warga sekitar menyayangkan sikap Dinas Pariwisata Morotai meski museum kini berada di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang dianggap gagal dalam merawat situs sepenting ini. Ia bahkan menyinggung biaya operasional yang harus ditanggung, termasuk tagihan listrik bulanan yang mencapai lebih dari Rp 2 juta, sebuah beban yang terasa berat di tengah minimnya perhatian terhadap perbaikan.
Sebagai satu-satunya pengelola, ia berharap agar Pemerintah Daerah Morotai dan semua pihak terkait dapat lebih fokus memperhatikan museum bersejarah ini.
“Museum ini sudah banyak menarik wisatawan mancanegara untuk berkunjung. Jadi, museum ini jangan dijadikan alasan tidak dihiraukan karena ini sama-sama punya negara, jadi sama-sama kita jaga kita perbaiki karena Morotai adalah saksi sejarah yang kita kenali di seluruh dunia,” pungkasnya penuh harap.
Kisah tentang Museum Trikora PD II Morotai adalah sebuah panggilan mendesak. Ia bukan hanya tentang merawat sebuah bangunan, melainkan tentang menjaga sebuah narasi sejarah dunia yang menjadi identitas Morotai dan martabat bangsa. Membiarkan saksi bisu Perang Dunia II ini terus rusak berarti membiarkan salah satu warisan paling berharga di Indonesia bagian timur hilang ditelan waktu. (RF/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!