Sofifi, Maluku Utara – Wakil Ketua DPRD Provinsi Maluku Utara, Kuntu Daud, menyoroti lambannya progres pekerjaan fisik yang melekat di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) tahun ini.
Proyek fisik yang melekat di Dikbud Maluku Utara sumber dananya berasal dari DAK sebesar Rp 179 miliar. Rata-rata pekerjaan fisik melalui DAK ini dikerjakan di 10 kabupaten/kota di Maluku Utara.
Lantaran progres pekerjaan fisik lambat menyebabkan penyerapan anggaran DAK tahun ini juga berimbas karena di penghujung tahun 2024, capaiannya baru mentok di angka 70 persen.
“Dari dulu DPRD sudah ingatkan kepada gubernur persoalan evaluasi, kalau mau evaluasi harus pastikan pejabat yang bersangkutan sudah menyelesaikan seluruh program,” kata Kuntu Daud, Kamis (19/12/202).
Kuntu bilang, salah satu faktor pekerjaan fisik yang melekat di Dikbud berjalan lambat karena pimpinan OPD-nya juga dibayang-bayangi masalah klasik yaitu ‘Bakal Diganti’ sehingga membuat psikologi mereka terganggu. “Siapa saja yang menjadi kepala dinas pasti takut, sehingga tidak komentar dalam menyelesaikan sebuah persoalan. Faktanya, Damrudin (Plt Kadis sebelumnya) diganti, dengan alasan yang tidak jelas, katanya diganti karena kinerja kurang terlalu baik,” singgungnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!