Tidore, Maluku Utara- City Branding merupakan identitas yang membedakan satu kota dengan kota yang lain, city branding atau brand kota secara sederhana dapat dikatakan sebagai istilah atau slogan kota yang menjadi ciri khas kota tersebut.
Demikian dikatakan Kepala Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan (Bappelitbang) Kota Tidore Kepulauan, Abdul Rasyid Fabanyo dalam laporannya pada Focus Group Discussion City Branding Kota Tidore Kepulauan, yang diselenggarakan oleh Bappelitbang Kota Tidore di Aula Sultan Nuku, Kantor Walikota Tidore, Rabu (07/12/2022).
“Strategi ini digunakan sebagai alat pemasaran kota, agar memiliki kedudukan strategis di mata nasional maupun dunia, olehnya itu, city branding Kota Tidore Kepulauan merupakan kebutuhan penting dan mendesak yang harus segera dirumuskan, sehingga kota ini memiliki identitas yang sesuai dengan karakteristiknya,” papar Abdul Rasyid.
Rasyid menambahkan, tujuan dilaksanakannya FGD City Branding Kota Tidore Kepulauan ini, untuk memperoleh saran dan masukan dari berbagai pihak tentang branding dari Kota Tidore Kepulauan.
FGD ini diikuti oleh, para anggota DPRD Kota Tidore, Pihak Kesultanan Tidore, Pimpinan OPD, Camat se Kota Tidore, pimpinan perguruan tinggi, pimpinan ormas, tokoh masyarakat, serta komunitas yang ada di Kota Tidore Kepulauan.
Didaulat sebagai narasumber atau pembicara dalam FGD tersebut, Abdul Haris Muhidin, Ceo dan Founder dari PT Son Entertainment Indonesia, yang juga selaku inisiator dari sebuah gerakan kebudayaan syukur dofu Tidore atau syukur dofu Indonesia
Ia menjelaskan brand adalah sebuah persepsi yang punya makna, brand bukan tentang apa yang dilihat pada seseorang atau sesuatu, akan tetapi brand adalah persepsi orang lain terhadap seseorang atau sesuatu.
“Brand bukan tentang apa yang kita katakan terhadap kita, baik itu produk, diri, maupun kota kita, tetapi brand adalah persepsi orang lain terhadap kita. Itu lah brand, perbedaan marketing dan branding yaitu, marketing tujuannya transaksi kalau branding tujuannya adalah untuk transformasi. Dari nobody menjadi somebody, dari bukan siapa-siapa menjadi sesuatu. Itulah cara kerjanya branding, jadi bukan hanya sekedar logo, tagline, warna, produk dan lain-lain, branding itu berbicara tentang semua,” papar Abdul Haris.
Sebagaimana tujuan city branding adalah merubah sebuah lokasi menjadi destinasi, focus group discussion (FGD) tersebut memfokuskan perdebatan pada beberapa tagline yang nantinya akan menjadi city branding Kota Tidore.
Meskipun belum sampai pada pembahasan yang tuntas, namun berikut beberapa tagline yang dibahas sebagai rencana city branding Kota Tidore Kepulauan, diantaranya; Syukur Dofu Tidore, Tidore Jang Foloi, Tidore Marasai, Garaki Tidore dan Tidore Pulau Rempah. Meskipun begitu, tagline-tagline ini masih akan dikaji lebih lanjut pada FGD yang akan digelar kembali oleh Bapelitbang Kota Tidore Kepulauan. (YH-3)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!