Morotai, Maluku Utara- Dua kelompok pemuda dari Desa Gotalamo dan Daruba Pantai, di Kecamatan Morotai Selatan, Pulau Morotai, terlibat bentrok, Sabtu (13/8/2022), pukul 01.30 WIT dini hari tadi.
Bentrokan dipicu salah paham dua kelompok pemuda saat acara pesta joget di Desa Gotalamo. Bentrokan ini mengakibatkan dua rumah di Gotalamo mengalami kerusakan yang cukup serius di bagian depan akibat saling lempar batu. Aksi baku lempar batu ini berlanjut hingga ke Desa Daruba Pantai yang hanya bertetangga dengan Gotalamo itu.
“Saat joget, ada saling senggol, karena sudah terpengaruh miras akhirnya terjadilah tawuran antara pemuda dua desa ini. Soal dua rumah yang rusak itu, saya tidak tahu siapa pelakunya,” ungkap Kepala Desa Gotalamo, Sibli Tanimbar, saat ditemui haliyora usai bentrokan malam tadi.
Sibli mengaku sebelum kejadian, dirinya memergoki beberapa pemuda tengah asyik mengisap lem aibon.
“Saya ambil lemnya kemudian diserahkan ke petugas polisi yang berjaga di pesta itu. Menurut saya, mungkin pengaruh lem ini menjadi salah satu pemicu sehingga terjadi perkelahian,” kata Sibli.
Agar peristiwa ini tidak memicu perkelahian antar kampung, Sibli mengontak Kepala Desa Daruba Pantai untuk menginformasikan adanya tawuran dua kelompok pemuda yang bertetangga itu.
“Saya juga sudah hubungi Kades Daruba Pantai, tapi beliau sementara lagi sakit, makanya beliau tidak sempat turun langsung,” katanya.
Sekitar pukul 02.25 WIT, Polres Pulau Morotai menerjunkan aparat kepolisiannya di lokasi kejadian di Daruba Pantai. Untuk membubarkan kedua kelompok yang bertikai ini, polisi menembakkan gas air mata hingga kedua kelompok pemuda itu bubar.
Amatan Haliyora, tampak salah satu bagian kaca jendela masjid di desa setempat pecah akibat gas air mata yang ditembakkan personil polisi. Selain memecahkan kaca masjid, kepulan asap gas air mata yang ditembakan ini memasuki rumah-rumah hingga kepanikan warga.
“Gas air mata yang ditembakan ini membuat warga panik karena asapnya masuk hingga membuat mata kami perih,” akui Habib Pongki, seorang tokoh agama di Daruba Pantai.
Meskipun tujuannya baik, namun tindakan represif yang dilakukan polisi ini menurut Habib, terlalu berlebihan, sebab gas yang ditembakkan itu terbilang cukup banyak serta berada di area padat penduduk sehingga dikhawatirkan menimbulkan efek buruk bagi anak-anak maupun lansia terutama penderita asma.
“Karena situasi malam dan kebetulan angin juga tidak bertiup, efek gas air mata masuk ke dalam rumah-rumah warga, dikhawatirkan jangan sampai anak-anak yang tertidur mengalami sesak napas. Saya yang punya riwayat asma terpaksa harus menghindari asapnya, sementara istri saya mengalami batuk, untungnya anak-anak tidak apa-apa, ” ungkapnya.
Kendati begitu, ia mengaku tidak menyalahkan tindakan represif polisi itu, namun sekiranya polisi meminimalisir penggunaan gas air mata untuk mengendalikan massa yang bertikai itu.
“Memang kejadiannya sudah di luar kontrol sehingga polisi menembakkan gas air mata tapi ada baiknya jangan berlebihan, khawatirnya berdampak bagi warga yang sedang istirahat,” ketusnya.
Ia berharap masalah ini secepatnya diselesaikan agar tidak menyulut perkelahian antar kampung. Ia juga meminta agar tokoh masyarakat dan pemuda di masing-masing kedua desa secepatnya bertemu untuk mendinginkan suasana.
“Saya berharap kedua belah pihak baik Daruba Pantai dan Gotalamo, segera buat pertemuan, begitu juga tokoh masyarakat kedua desa diharapkan sebagai penengah sehingga masalah ini selesai dan tidak merembet antar kampung,” harapnya. (Tir-2)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!