Rumah Besar dan Kemen-dua-an yang Final

Oleh : Salim Taib
Wakil Ketua Bidang Organisasi BP Sibulamo Provinsi Maluku Utara

Di tengah-tengah bedah dan diskusi buku  Sibulamo Dalam “Bingkai Persatuan dan Keragaman Budaya” salah satu pembahas Utama Agus Salim Bujang, mengamati  penyebutan nama ‘rumah besar’ antara Sibualamo (Galela) dan Hibualamo (Tobelo), dua nama yang satu arti itu menurutnya bentuk kemenduaan yang belum selesai dan beliaupun kemudian mengusulkan proses penggabungan nama menjadi  satu ‘SHibualamo’ dengan memasukkan huruf h. sebuah usulan yang menerobos lapisan sejarah masa lalu oleh para moyang yang menjadikan sibualamo atau hibualamo menjadi penanda sekaligus pembeda dalam pengucapannya, disinilah dilema kesamaan Bahasa yang memiliki  arti yang sama dalam dua kalimat yang berbeda, kita akan menemukan satu nafas pemahaman yang sama atas keberbedaan itu? Dengan terlebih dahulu menelusuri penjelasan secara antropologlinguitik, menurut Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim dalam penjelasannya bahwa “Bahasa Galela dan bahasa Tobelo adalah dua bahasa yang berabat dalam rumpun besar non-Austronesia, khususnya Filum Papua. Bahasa-bahasa yang berkerabat memiliki persamaan kalimat, kata, dan fonem (bunyi). Dalam persamaan itu ada variasi di dalamnya. Variasi di dalam kata seperti pada sibua dan hibua ‘rumah’. Dalam sejarah perbandingan bahasa-bahasa, kata yang mirip ini disebut cognate, kata yang dengan makna yang sama tetapi dibedakan oleh satu fonem (bunyi). Dalam sejarah perbandingan bahasa, dua kata ini dikonstruksi untuk ditemkukan moyang kata, proto-word, yang di-(hipo)tesiskan sebagai bentuk asal dua kata tersebut. Rekonstruksi menggunakan kaidah-kaidah bunyi yang menjadi sifat pokok dua bahasa tersebut. Terjadi variasi bunyi pada sibua dan hibua  karena evolusi bahasa, dan itu berlangsung sangat lama. Evolusi bahasa itu ditentukan oleh banyak variabel dan dua variabel penting adalah kontak antar bahasa dan evolusi ragawi alat ucap manusia.

Evolusi Bahasa yang terjadi secara turun temurun mengakibatkan sering terjadinya pergeseran kalimat yang dimulai dengan pergantian huruf, dan bisa jadi sampai pergantian kata ke kalimat akan tetapi memiliki pengertian yang sama, banyaknya anasir-anasir yang turut mempengaruhi sebuah peristiwa evolusi ragawi sebagai alat ucap manusia adalah absah dalam perjalanan sejarah Panjang manusia. Sibualamo atau hibualamo yang pengertiannya sama ‘rumah besar’ memiliki alas history atau latar belakang sejarah orang tobelo dan galela dalam memaknai secara filosofi, kultural dan bahkan idiologis, oleh karena itu bagi penulis dengan mendengar tuturan para moyang (didihimo) dalam menuturkan/menceritakan kembali tentang Sibualamo atau Hibulamo yang menjadi rumah besar tempat berkumpulnya semua indentitas, klan, marga dalam merepsentasikan rasa kesyukuran kepada Tuhan yang Satu (dhikiri moi) atas hasil-hasil panen hulu dan hilir. Diperjumpaan rumah besar segala problem diceritakan baik problem yang sifatnya personal maupun komunal serumit apapun masalah yang dihadapi harus ada jalan titik temu dengan bulatan tekat persengketaan harus diselesaikan dalam rumah besar.

BACA JUGA  Menjaga Kebebasan Pers Berarti Meningkatkan Kualitas Hidup

Yang pasti ‘rumah besar’ Sibualamo (Galela), Hibualamo (Tobelo) didirikan tidak berada dalam ruang hampa yang tampa makna dan arti, atau dengan perkataan lain sebelumnya diberi pemaknaan, Bahasa yang dibunyikan adalah penanda atas makna baik realitas yang dikonstruksi atau sebaliknya sebuah realitas yang dibahasakan, oleh karena itu pada konteks kemenduaan Bahasa tidak harus dipertentangkan apalagi menghilangkan makna sama sekali. Shibualmo yang diusulkan dengan mamasukkan huruf (h) pada kata Sibulamo adalah bentuk pengkaburan makna, proses penghilangan makna dalam sejarah awal berdirinya sibualamo. Sibualamo bukan sekedar nilai, lebih dari itu dalam filosofi giadutu sebagai symbol pemersatu.

Sebagai alat pemersatu dari berbagai klan sibualamo ataupun hibualamo (Tobelo), ‘rumah besar’ sebagai nilai penghidupan kebudayaan (living culture), dalam rumah besar, segala hajat hidup diperbincangkan, segala perilaku hidup dipertukarkan, teras rumah besar itu telah menjadi ‘antitesa’ dari segala penghidupan yang terjadi dalam rumah-rumah kecil, disitulah letak akar penamaan Sibualamo yang berasal dari dua kata yakni sibua atau sabua dan lamo, Sibua artinya rumah dan lamo artinya besar, sehingga sibualamo dapat diartikan rumah besar, rumah besar (Sibulamo) yang oleh penulis menyebutnya sebagai “antitesa dari segala penghidupan yang terjadi dari rumah-rumah kecil”, rumah-rumah kecil bisa diidentifikasi sebagai perwujudan proses meleburnya soa. Peleburan soa dalam rumah besar sibualamo yang asal muasalnya dari Bangsaha, bangsaha sebagai dasar dan sekaligus  tiang penyangga untuk memperkuat  ‘rumah besar’.

BACA JUGA  4 Pangkalan Mitan di Sula Ditutup, Agen Ungkap Penyebabnya

Bangsaha sebagai isi dan dasar serta tiang penyangga dari rumah besar (Sibualamo), karena menghimpun sepuluh bangi masoha dari soamogiowo, sepuluh klan yang berasal dari soamogiowo mampu dileburkan egosentrisme klannya tunduk pada satu komando, satu komando yang telah diatur aturan-aturan, etika yang mengatur polah komunikasi antara satu klan dengan klan yang lain.

Sibualamo ataupun hibualamo didirikan oleh para Moyang melatari dasar persamaan fikiran, persamaan hidup, persamaan senasip dan sepenanggungan jauh lebih terpenting sibualamo merupakan konsensus bersama dari berbagai klan  diikat dalam culture yang sama harus hidup rukun dan damai di bawah satu kesatuan filosofi “giadutu”. Giadutu sebagai basis idiologi yang dimaknai oleh para moyang Hibualamo atau Sibualamo sebagai isi dari rumah besar tersebut bahwa lima jemari yang berdiri sendiri harus dikepalkan mejadi satu kesatuan , dalam satu kepalan tangan seluruh masalah hajat hidup akan bisa dituntaskan.

Oleh karena itu dalam kemenduaan penyebutan sibualamo atau hibulamo oleh Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim menyebutkan Perlu studi mendalam untuk merekonstruksi moyang kata dari sibua dan hibua. Rekonstruksi itu harus dilakukan dengan prinsip-prinsip representasi fonologi–sifat dan mekanisme pembunyian tiap kata yang dibandingkan–dan argumentasi yang kuat yang mendasari  kaidah perubahan bunyi tersebut. Jadi, kata sibua dan hibua tidak perlu dipertentangkan tetapi dipersandingkan sebagai dua realitas yang sesungguhnya turun dari satu moyang kata yang sama. Bukti yang paling gampang adalah, meskipun dibedakan oleh /s/ dan /h/ pada  posisi adalah kata, dua kata ini punya arti yang sama, ‘rumah.’. Karena berkerabat, pasti ada kata-kata lain yang bervariasi dengan pola yang sama atau mirip, seperti sibua dan hibua. Jadi, sekali lagi, menurut sang Guru besar Prof Gufran, sibua dan hibua tidak perlu dipertentangkan tapi dipersandingkan, itulah esensi dari penghormatan terhadap kemajemukan.

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah