Di Haltim, Gadis Belia Disetubuhi 10 Orang Remaja

Maba, Haliyora

Kekerasan seksual anak di bawah umur kembali terjadi di desa Soagimalaha, Kecamatan Kota Maba, Kabupaten Halmahera Timur. Seorang gadis belia inisial HT (13) disetubuhi 10 remaja. Korban dan 10 pelaku berasal dari desa yang sama.

Bacaan Lainnya

Aksi bejad 10 pelaku itu diketahui setelah korban melaporkan kepada ibunya dan oleh ibu korban langsung dilaporkan ke Polres Haltim.

Setelah mendapat laporan ibu korban, Reskrim Polres Halitm bergerak cepat untuk memburu para pelaku dan berhasil menangkap dan menahan 10 pelaku pelecehan seksual itu untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kejadian itu disampaikan Kapolres Halmahera Timur (Haltim), AKBP Eddy Sugaiaro didampingi Kabag Humas Polres, Iptu Jufri Adam, dan Kasat Reskrim AKP Paultri Yustiam dalam pers kofrence pers Rabu (03/03/2021) di aula Polres.

Disampaikan, 10 pelaku masing-masing inisial ZA (14) Pelajar SMP kelas I, MA (16) Pelajar SMA kelas II,  MH (20) belum bekerja, WN (13) pelajar SMP, JM (14) pelajar kelas III SMP,  LY (15) pelajar SMP kelas III, RH (17) pelajar SMA kelas II, ZH (14) pelajar kelas II SMP, HH (19) pelajar SMA kelas II, dan NA (21) bekerja sebagai kurir jasa.

“Para pelaku saat ini dalam penyelidikan, dimana tujuh diantaranya adalah kategori anak nakal atau dibawah umur sehingga dilakukan penahanan rumah atau dikembalikan ke rumah, sedangkan tiga orang lainnya dewasa sudah dilakukan penahanan di polres Haltim,” jelas Eddy.

Dikatakan, perbuatan pelaku terjadi pada bulan Oktober dan Desember tahun 2020 serta Januari 2021. Para pelaku dalam melakukan perbuatannya pada malam hari   dengan modus berpacaran lalu membujuk  korban HT melakukan pencabulan dan persetubuhan di kamar korban.

“Jadi perbuatan mereka  ini dilakukan di tempat yang sama yakni di rumah atau kamar korban, waktunya berbeda beda dan pelaku bergantian melakukan hubungan seksual dengan pelaku bergantian setiap malam. Jadi tidak sama-sama. Tetapi kita masih melakukan pendalaman apakah para pelaku ini ada keterkaitan satu sama lain atau tidak dalam melakukan perbuatan mesumnya itu,” ujarnya.

Kapolres mengaku, pihaknya  sudah mengumpulkan sejumlah barang bukti yang digunakan para pelaku berupa baju yang dipakai saat melakukan hubungan seksual serta barang bukti lainnya di lokasi kejadian yakni satu buah seprei bermotif doraemon.

“Untuk kepentingan penyelidikan, semua barang bukti (BB) kita simpan. Begitu juga untuk para tersangka anak di bawah umur saat ini belum ditahan, namun akan dilakukan penahanan jika sudah dilakukan penyerahan berkas atau P21 ke kejaksaan. Tetapi dalam proses penyidikan ada pertimbangan lain, sehinga bisa kita tahan,” terangnya.

Ditanya kemungkinan ada tersangka lainnya, Kapolres mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman untuk memastikan hal tersebut sehingga kasus tindak pidana tersebut  bisa terungkap secara keseluruhan.

“Ada kemungkinan tersangka lain juga, makanya kita masih terus melakukan pendalaman kasus ini,” katanya.

Disampaikan Kapolres, atas perbuatannya, para tersangka dijerat pasal 81 ayat 2 dan pasal 82 ayat 1 Undang-Undang nomor 17  tentang perlindungan anak, dengan hukuman penjara paling singkat  5 tahun dan maksimal 15 tahun serta denda sebesar Rp 5 miliar.

“Jadi pasal yang kita sangkakan juga berbeda-beda, karena ada yang melakukan pencabulan, ada yang persetubuhan serta ada perbuatan berlanjut sesuai perbuatan para pelaku,” pungkasnya menutup. (RH-1)

Pos terkait