Kasus Paman Setubuhi Ponakan Ditangani Polres Haltim

Haltim, Haliyora

Polres Halmahera Timur (Haltim) paparkan dua kasus pencabulan anak di bawah umur pada tahun 2019.

Bacaan Lainnya

Hasil pemaparan dua kasus dugaan pelecehan seksual anak di bawah umur disampaikan Kabag Humas Polres Haltim Iptu Jufri Adam, S.sos dalam rilis yang diterima Haliyora, pada Sabtu (03/10/2020) pukul 17.00 sore.

Dalam rilis itu disebutkan, Kapolres Haltim AKBP. Edy Sugiharto, SE., MH , didampingi Kasat Reskrim Iptu Ambo Welang, SE., Kasubag Humas Iptu Jufri Adam , S.Sos dan Kasi propam Ipda. Jarwadi Rumakuwaur menjelaskan hasil pemaparan kasus pencabulan anak di bawah umur pada konfrensi pers, Sabtu (03/10/2020).

Disebutkan, Kapolres Haltim Akbp Edy Sugiharto, SE., MH dalam konfrensi pers tersebut menjelelaskan kronologis kejadian.

Dijelaskan, kasus pertama terjadi pada September 2019 di desa Marathana Jaya, Kecamatan Maba Tengah, Kabupaten Halmahera Timur dengan tersangka atas nama FL dan korban atas nama FA.

Dalam penjelasannya, kejadian berawal dari ketika istri tersangka FL pergi ke Gereja, sementara di rumah hanya tersangka dan korban.

Memanfaatkan keadaan sepi, FL menarik korban ke dalam kamar dan memaksa korban FA yang juga ponakan pelaku sendiri yang tinggal serumah itu untuk melakukan hubungan badan disertai ancaman. Kejadian serupa berulang sabanyak tujuh kali setiap istri tersangka tidak ada di rumah hingga korban hamil.

Disebutkan bahwa sekarang korban (FA) telah melahirkan seorang anak hasil perbuatan bejat FL.

Atas perbuatannya, pelaku (FL) disangkakan melanggar pasal 81 ayat (2) dan pasal 82 ayat (1) UU No 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pengganti UU No.1 Tahun 2016 tentang Perubahan Ke dua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan AnakĀ  pasal 64 KUHPidana dengan ancaman hukuman paling singkat lima (5) tahun dan paling lama 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 5.000.000. 000.

Sedangkan pada kasus ke dua dijelaskan, terjadi pada tahun 2019 di Desa Bebsili, Kecamatan Maba Tengah, Kabupaten Haltim dengan tersangka atas nama. AG dan korban atas nama RH.

Kronologisnya, RH adalah ponakan tersangka (anak dari saudara tersangka) yang diasuh AG sejak RH berusia lima (5) tahun. Karena diasuh sejak kanak-kanak, maka selalu tidur seranjang dengan tersangka dan istrinya hingga saat kejadian itu.

Suatu malam, ketika istri tersangka terlelap dalam tidurnya, pelaku membangunkan korban. Korban dipaksa melayani nafsu. Awalnya korban yang merupakan anak asuh pelaku menolak dan merontak, namun pelaku memukulnya disertai ancaman, sehingga korban ketakutan dan pasrah membiarkan pelaku melakukan perbuatan bejatnya.

Tak puas hanya sekali, pelaku mengulang perbuatan nista itu berulang kali pada setiap kesempatan.

Atas perbuatannya, tersangka AG disangka melanggar pasal 81 ayat (2) dan passl 82 ayat (1) UU RI No 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan penganti UU No.1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan Anak jo padsl64 KUHPidana dengan acaman hukuman paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 5.000.000. 000.

Sayangnya, dalam rilis tersebut tidak dicantumkan berapa usia korban dengan alasan untuk melindung korban. (Awhy-1)

Pos terkait