Debat Kedua Pilkada Sula, Tiga Paslon Adu Program

Sanana, Haliyora

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) menggelar debat  pasangan calon untuk pemilihan bupati dan wakil bupati putaran ke dua, Jum’at (13/11/2020).

Tiga pasangan calon yakni, Hendrata Thes-Umar Umabaihi (HT-UMAR), Zulfahri Abdullah Duwila-Ismail Umasugi (ZADI-IMAM), dan Fifian Adeningsi Mus-M. Saleh Marasabessy (FAM-SAH) pun adu visi misi dalam debat yang bertajuk “Pembangunan Sula yang Integratif, Meneguhkan Dad Hia Ted Sua dalam Bingkai NKRI”.

Amatan Haliyora melalui live layar lebar di Waimua Coffe, ketika menjawab pertanyaan moderator debat, Syahrani Somadayo, tentang strategi mengatasi kemiskinan dalam nilai-nilai basanohi (Basudara) dan capaian pembangunan per tahun, Paslon nomor urut dua (Zadi-IMAM) berjanji akan  mempertahankan budaya-budaya, serta memberikan support berupa bantuan untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan dalam bingkai Basanohi demi keadilan dan pemerataan kesejahteraan.

Menurut calon bupati nomor urut dua Zulfari, masyarakat Kabupaten Kepulauan Sula  memiliki kultur basanohi dan lom poa do hoi. kultur-kultur tersebut adalah aset berharga dan menjadi modal untuk membangun Kabupaten Kepulauan Sula ke depan.

Karena biasanya masyarakat kita adalah petani, makanya dalam berkebun budaya-budaya ini harus dikembangkan, jawab Zulfahri.

BACA JUGA  Nilai Penetapan Tersangka Kadispora Haltim Tendensius, Keluarga AG Bakal Tempuh Praperadilan

“Kultur dan  budaya seperti itu harus tetap dipertahankan, karena ini merupakan aset untuk pembangunan Sula ke depan pada semua bidang dan sektor melalui support bantuan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan secara adil dan merata dalam semangat Dad Hia Ted Sua, dan semangat walima (ambe tangan),” tandasnya.

Masih dalam pertanyaan yang sama, pasangan nomor urut tiga (FAM-SAH) menegaskan akan fokus menjaga toleransi, meningkatkan budaya, serta mengembangkan komoditas pertanian.

“Pertama harus menciptakan suasana kehidupan yang harmonis antar sesama dengan menjaga dan meningkatkan toleransi diantara masyarakat Sula yang terdiri dari banyak budaya, adat, suku dan agama.

“Sedangkan terkait basanohi dan lom poa do hoi harus ditingkatkan, tetapi itu tidak bisa dijadikan sebagai pertumbuhan ekonomi,” ujar calon bupati nomor urut tiga Fifian Adeningsi Mus.

pada kesempatan yang sama, calon wakil bupati Saleh Marasabessy menambahkan, salah satu potensi Sula yang mendapat perhatian Paslon nomor urut tiga adalah komoditas pertanian yang selama ini terabaikan yakni kelapa.

BACA JUGA  Lusa, Polres Ternate Kerahkan Personelnya Amankan Debat Kandidat Pilwako

“kita mempunyai kelemahan di daerah ini karena kita kurangnya pengelolaan komoditas unggulan. Kita harus masuk pada sektor pengelolaan, kita melihat tanaman kelapa kita adalah salah satu komoditas unggulan yang harus  dikembangkan sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi  masyarakat,”ujarnya.

Sementara, ketika mendapat giliran menjawab pertanyaan yang sama dari moderator, calon bupati dari paslon nomor urut satu Hendrata Thes sebut tata kelola pemerintahan yang buruk selama pemerintahan terdahulu (sebelum dirinya) menjadi penyebab Kabupaten Sula masuk tiga Daerah Tertinggal di Maluku Utara.

Calon bupati Petahana itu mengatakan, Sula menjadi daerah yang lambat pertumbuhaannya karena tata kelola pemerintahan terdahulu  tidak melihat skala prioritas. “Mestinya ketika sebuah daerah dimekarkan, yang harus dibangun pertama adalah insfratruktur dasarnya dulu,” ujarnya.

“Untuk itu visi dan missi kami ke depan terkait  strategi mangatasi kemiskinan adalah melanjutkan program yang telah kami laksanakan pada periode pertama, diantaranya pembangunan infrastruktur, sambil terus mendorong  program-program pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19,” pungkasnya. (AT-1)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah