Ternate, Haliyora.com
Seorang Pasien reaktif dikarantina mandiri oleh Gugus Tugas di rumahnya. Ia mengeluh karena selama kurang lebih 10 hari menjalani karantina, tak ada perhatian dari Gugus Tugas. Katanya tak sekalipun dikunjungi untuk memeriksa kesehatannya, bahkan nomor kontak petugas pun tak diberikan. Padahal menurut dia, nomor kontak petugas itu penting agar sewaktu-waktu dapat dihubungi jika terjadi masalah dengan kondisi kesehatannya.
Menanggapi keluhan pasien tersebut, Kepala Bidang Operasi Gugus Tugas Covid-19 Kota Ternate. M. Arif Gani menepis kabar tak sedap itu.
Ketika dikonfirmasi haliyora.com di eks kantor walikota Ternate pada, Selasa (02/06/2020), ia mengatakan, semua pasien yang dikarantina di rumah dicaver oleh timnya.
Kata Arif, semua pasien yang dikarantina dirumah mendapat pengawasan ketat dari tim dan petugas survaillans. Bukan hanya diawasi tetapi juga diberi obat dan dipeiksa kesehatannya. Selain itu mereka selalu dihimbau untuk menerapakan secara ketat protocol kesehatan seperti pakai masker, cuci tangan dan dilarang keluar rumah.
“Jadi kalau dia mengatakan begitu berarti teman-teman survaillans bekerja siang malam itu tidak betul, maka mereka merasa gimana, karena mereka yang memantau langsung,”terang Arif.
Arif menjelaskan, Jika tim survaillans belum sempat mengunjungi pasien, maka mereka pasti mengontak untuk komunikasi lewat telpon. “Jadi kemungkinan besar dia itu sudah tidak di pantau, karena mungkin sudah tidak ada gejala, karena angka disitu tentatif naik turun seperti dia OTG habis ODP, naik turun,”ujarnya.
Ia mencontohkan, misalnya hari ini ada 100 orang dipantau, lalu dalam beberapa hari kemudian tersisa 80 orang, sehingga yang 20 itu tidak di pantau lagi.
“Kan ada lurah, kalau ada masyarakatnya seperti itu dia harus melaporkan kepada Tim Gugus. Karena bisa saja dia tidak tercaver oleh tim kita. Kita juga berharap masyarakat harus melapor karena kasus Covid-19 ini butuh kejujuran, mereka harus melapor ke Puskesmas terdekat supaya ada tindakan dari Tim Gugus Tugas. Jadi ini butuh kerjasama semua pihak.”tandas Arif.
Arif menambahkan, Tim Gugus Tugas juga memberikan bantuan sembako melalui bantuan sosial kepada pasien selama di karantina di rumah delapan hari. Setelah delapan hari kemudian dilakukan rapid test ke dua, Bantuan sembako akan diakhiri jika pada rapid test kedua hasilnya non reaktif. Bantuan akan dialihkan ke pasien baru yang reaktif.
Diakhir wawancara, Arif berjanji akan mengecek di data pasien yang dikarantina secara mandiri di rumah. “nanti kita lihat di data, kalau ada pasien seperti itu, kami akan melakukan penanganan secepatnya,”janji Arif. (Sam)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!