Galela, Maluku Utara – Permukaan Danau Galela tak lagi sepenuhnya memantulkan langit. Dalam beberapa hari terakhir, tepian danau ini justru dipenuhi tumpukan sampah rumah tangga—mulai dari botol plastik, kemasan makanan, hingga popok bayi yang mengambang di antara air yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan estetika lingkungan. Bagi masyarakat sekitar, kondisi tersebut telah menyentuh aspek paling mendasar, yakni keberlangsungan hidup. Danau Galela selama ini menjadi sumber air untuk kebutuhan sehari-hari, sekaligus ruang ekonomi bagi warga yang menggantungkan hidup dari aktivitas perikanan, termasuk budidaya ikan mujaer.
“Ini bukan lagi soal kotor atau tidak, tapi soal kami mau pakai air apa kalau terus begini,” ujar seorang warga Desa Seki, Kecamatan Galela Selatan.
Letak danau di kaki Gunung Tarakani sejatinya memberikan nilai ekologis sekaligus potensi wisata yang besar. Namun, dalam praktiknya, kawasan ini justru kian rentan menjadi lokasi pembuangan sampah liar. Minimnya pengawasan dan ketiadaan aturan spesifik membuat perilaku membuang sampah sembarangan seolah menjadi hal lumrah.
Warga menilai persoalan ini bukan tanpa sebab. Hingga kini, belum terlihat adanya regulasi tegas yang secara khusus mengatur pengelolaan kawasan danau. Fasilitas dasar seperti tempat sampah maupun papan larangan pun masih terbatas, membuka ruang bagi pengunjung maupun pengguna jalan untuk membuang limbah tanpa konsekuensi.
Situasi ini memunculkan kritik terhadap pemerintah daerah yang dinilai lamban merespons ancaman lingkungan yang kian nyata.
“Kalau dibiarkan, ini bisa jadi krisis. Danau bisa tercemar dan tidak layak lagi digunakan,” kata Bayu, warga setempat, Selasa (31/3/2026).

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!