Galela, Maluku Utara – Harga buah kelapa di Kabupaten Halmahera Utara (Halut) kembali merosot. Untuk kelima kalinya dalam beberapa waktu terakhir, harga di tingkat pengepul turun dan kini berada di kisaran Rp 2.000 hingga Rp 2.200 per buah. Penurunan beruntun ini langsung memukul pendapatan petani.
Sejumlah pengepul di wilayah Galela menyebutkan turunnya harga diduga berkaitan dengan melemahnya permintaan pasar internasional. Berkurangnya negara tujuan ekspor disebut menjadi salah satu faktor utama.
“Dulu sekitar lima negara ambil produk dari PT Nico. Sekarang tinggal tiga. Permintaan luar negeri turun, otomatis harga di sini ikut turun,” ujar seorang pengepul yang meminta namanya tidak disebutkan, Sabtu (14/2/2026).
Namun para pengepul mengaku tidak pernah menerima penjelasan resmi dari pihak perusahaan terkait alasan pasti perubahan harga. Mereka hanya mengetahui adanya penyesuaian setelah harga di lapangan berubah.
“Soal ini tidak pernah dijelaskan secara resmi. Biasanya kami dengar dari sesama pengepul. Ini sudah yang kelima kalinya harga turun, tapi alasannya tidak pernah disampaikan,” kata pengepul lain di Galela.
Saat ini, perusahaan pengolahan kelapa, PT Nico, diketahui menetapkan harga dasar sekitar Rp 2.500 per buah. Namun setelah dipotong biaya operasional seperti upah buruh, ongkos angkut menggunakan kendaraan viar, serta pengeluaran lain yang rata-rata mencapai Rp 100 per buah untuk masing-masing komponen, harga bersih yang diterima petani menjadi lebih rendah.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!