Haliyora.id – Ramadhan tak hanya tentang puasa, shalat tarawih, dan zakat. Di berbagai belahan dunia, bulan suci ini hadir dengan warna budaya yang khas, menyatukan spiritualitas dan tradisi dalam balutan kebersamaan. Dari dentuman meriam yang menggetarkan langit senja hingga lentera bercahaya yang menghiasi malam, setiap negeri memiliki cara unik merayakan Ramadhan.
Meski berbeda bahasa dan budaya, semangatnya tetap sama, yakni mempererat iman dan solidaritas umat.
Berikut tujuh tradisi Ramadhan unik dari berbagai penjuru dunia yang memikat perhatian:
Dentuman Meriam Penanda Berbuka
Di sejumlah negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Mesir, dan Arab Saudi, dentuman meriam menjadi penanda waktu berbuka puasa. Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun.
Saat matahari terbenam, suara meriam menggema sebagai tanda umat Muslim boleh membatalkan puasa. Di Lebanon, tradisi yang dikenal sebagai Madfa al Iftar ini konon bermula dari peristiwa tak sengaja pada masa Kekaisaran Utsmani yang kemudian menjadi kebiasaan turun-temurun.
Fanous, Lentera Ikonik Ramadhan
Ramadhan di Mesir tak lengkap tanpa fanous—lentera warna-warni yang menghiasi rumah dan jalanan. Tradisi ini diyakini berasal dari era Dinasti Fatimiyah, ketika masyarakat menyambut khalifah dengan cahaya lilin.
Kini, fanous menjadi simbol kebahagiaan Ramadhan. Anak-anak membawa lentera sambil bernyanyi, sementara pasar-pasar dihiasi cahaya temaram yang hangat dan meriah.
Penabuh Genderang Sahur yang Setia Berkeliling
Di Turki, para penabuh genderang atau davulcu mengenakan pakaian khas era Ottoman dan berjalan keliling kampung sebelum fajar. Mereka membangunkan warga untuk sahur, sebuah tradisi yang telah bertahan sejak masa ketika jam weker belum dikenal.
Tradisi serupa juga ditemukan di India, khususnya di kawasan Old Delhi, di mana Seheriwalas berkeliling sambil melantunkan pujian kepada Allah dan Rasul-Nya.
Nafar, Penyeru Kota dari Maroko
Berbeda dengan tabuhan genderang, di Maroko terdapat tradisi Nafar. Seorang penyeru kota berjalan menyusuri gang-gang sambil mengumandangkan waktu sahur dan tarawih dengan suara lantang.
Lantunan tersebut menjadi alarm alami yang membangunkan warga, sekaligus menghadirkan nuansa spiritual yang khas.
Hag Al Laila, Tradisi Anak-Anak Emirat
Menjelang Ramadhan, anak-anak di Uni Emirat Arab merayakan Hag Al Laila. Mereka berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengumpulkan permen dan kacang-kacangan.
Tradisi ini bukan sekadar perayaan, tetapi simbol berbagi dan mempererat hubungan sosial antarwarga.
Chand Raat yang Meriah di Asia Selatan
Di Pakistan dan beberapa wilayah India, malam menjelang Idul Fitri dikenal sebagai Chand Raat. Perayaan ini menandai terlihatnya hilal.
Pasar-pasar dipadati warga yang membeli gelang warna-warni, pakaian baru, dan menghias tangan dengan henna. Toko-toko buka hingga dini hari, menciptakan suasana yang semarak dan penuh kegembiraan.

Warna Ramadhan di Indonesia
Di Indonesia, Ramadhan memiliki ragam tradisi yang tak kalah unik. Mulai dari ngabuburit menunggu waktu berbuka, ziarah kubur, hingga tradisi mandi bersama sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan suci.
Namun, dibalik kemeriahan tersebut, ada tantangan sosial yang menyertai. Kenaikan harga kebutuhan pokok kerap terjadi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Masyarakat tetap berupaya memenuhi kebutuhan sedekah, zakat, pakaian baru, hingga biaya mudik, menjadikan bulan suci ini juga sebagai ujian solidaritas dan ketahanan ekonomi.
Ramadhan membuktikan bahwa iman dapat berjalan beriringan dengan budaya. Dentuman meriam, cahaya lentera, tabuhan genderang, hingga hiruk-pikuk pasar malam semuanya menjadi bagian dari mozaik peradaban Islam.
Perbedaan tradisi bukanlah sekat, melainkan jembatan yang memperkaya pengalaman spiritual umat di seluruh dunia.
Pada akhirnya, Ramadhan selalu kembali pada satu makna yang sama, yaitu memperkuat iman, mempererat kebersamaan, dan menumbuhkan kepedulian sosial, di mana pun umat berada. (Redaksi)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!