Sejumlah warga mengaku terkejut setelah menyaksikan isi dokumenter tersebut. Mereka menilai persoalan yang diangkat dalam film memiliki keterkaitan dengan konflik agraria dan investasi yang juga terjadi di Maluku Utara.
“Film dokumenter ini perlu ditonton masyarakat luas, karena membongkar kejahatan negara atas apa yang terjadi di Papua,” kata Lakar, warga Desa Towara yang datang khusus untuk menyaksikan film tersebut.
Ia menilai situasi yang dialami masyarakat Papua memiliki kemiripan dengan kondisi masyarakat adat di Maluku Utara yang tengah menghadapi tekanan investasi dan perebutan ruang hidup.
“Misalnya masyarakat adat Suku Wayoli di Desa Sasur sampai hari ini masih konsisten menolak aktivitas PT Ormat Geothermal Indonesia di kawasan Telaga Rano,” tambahnya.
Forum Serikat Petani Galela menegaskan pemutaran Pesta Babi bukan sekadar agenda hiburan, melainkan ruang pendidikan politik warga untuk membicarakan persoalan agraria, investasi, serta ancaman terhadap ruang hidup masyarakat.
Menurut forum tersebut, diskusi-diskusi semacam itu penting di tengah meningkatnya ekspansi proyek investasi dan konflik lahan di berbagai daerah, termasuk di Maluku Utara. (RR/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!