Walaupun begitu, mereka mengatakan bahwa pemalangan ini dilakukan demi kepentingan antara masyarakat dan PT. Nico. “Kalau jalan ini diperbaiki, maka semua pihak akan turut senang. Mulai dari mobil perusahaan, para pengepul hingga petani yang beraktivitas di kebun,” ujar salah satu warga.
Saat ditanya soal harapan kepada DPRD Halmahera Utara, warga menyatakan kekecewaan mereka. Warga mengaku kehilangan kepercayaan terhadap para wakil rakyat yang dinilai tidak memberi perhatian serius terhadap persoalan tersebut.
“Kan DPRD juga berbisnis (kelapa red). Harusnya kalau berbisnis, mereka bisa perhatikan jalan tani ini, tapi sampai sekarang tidak ada tindakan,” ujar seorang warga dengan nada kecewa.
Sebelumnya, pada 17 November lalu, kelompok masyarakat yang tergabung dalam Komite Petani Halmahera Utara (Kopra) menggelar aksi besar menuntut penetapan harga buah kelapa Rp 3.000 sesuai rilisan Kementerian Pertanian serta perbaikan jalan tani di sejumlah desa, termasuk Togawa Besi.
Dalam hering terbuka di depan kantor DPRD Halut, sejumlah anggota dewan seperti Julhijah Rasai, Fahmi Musa, Irwan Djam, dan Wakil Ketua II Abdilah Bailusy berjanji akan mengawal aspirasi masyarakat. Namun hingga kini, warga menilai belum ada tindak lanjut nyata atas tuntutan mereka.
Aksi pemalangan jalan di Togawa Besi masih berlangsung hingga berita ini diturunkan. Warga mengaku akan membuka palang jika ada komitmen jelas dari PT Nico maupun pemerintah daerah untuk memperbaiki jalan tani yang rusak itu. (RR/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!