Namun, kondisi TK mulai memburuk pada Rabu, 5 November 2025. Setelah shalat Isya sekitar pukul 20.00 WIT, TK mengalami kejang selama 1–2 menit, lalu sadar kembali. “Satu jam kemudian, kejang terulang, dan secara total TK mengalami tiga kali kejang dengan jeda 2–3 jam,” jelasnya.
Meski awalnya masih bisa berkomunikasi, pada Kamis (6/11) malam, TK mulai menunjukkan gejala halusinasi. Ia mengaku ingin tidur di tempat yang sebenarnya kosong. Selama jam olahraga, TK sempat mencoba melempar telepon genggam sebelum dicegah petugas. Malamnya, ia mengeluh panas, sulit tidur, berbicara tidak jelas, bahkan menirukan suara hewan. Pada Jumat (7/11), kondisi TK semakin memburuk.
“Ia berbicara dengan tatapan kosong dan komunikasi tidak nyambung. Kami pun meningkatkan observasi intensif dan menghubungi pihak Kejaksaan serta keluarga,” kata dr. Farit.
Lanjutnya pada Sabtu (8/11), Kepala Desa Umaloya dan seorang ahli pengobatan tradisional menjenguk TK. Namun setelah itu, TK menjadi agresif, mondar-mandir, memukul pintu besi, dan membenturkan kepala ke tembok. Ketika petugas mencoba menahannya, TK melawan dan sempat mencoba mencekik leher petugas.
“Ia harus diborgol karena sangat berpotensi melukai dirinya sendiri maupun orang lain,” ujar dr. Farid.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!