Namun, selama kepemimpinan Bupati Bassam Kasuba, keindahan Taman Saruma terkesan ternoda. Fasilitas yang ada hampir semuanya rusak, dan rumah-rumah adat yang seharusnya menjadi simbol persaudaraan kini terabaikan dan dibiarkan tumbuh liar. Fasilitas-fasilitas penting ini meninggalkan kesan seperti rumah kosong, mencerminkan ketidakberdayaan pengelolaan aset yang baik.
Taman Saruma, yang dibangun sejak tahun 2017 dengan menggunakan anggaran APBD, setiap tahunnya mendapatkan alokasi dana dari pemerintah daerah. Pada tahun 2019, Pemerintah menganggarkan sekitar 500 juta rupiah dan meningkat menjadi 700 juta rupiah pada tahun 2020. Namun, dana yang digelontorkan besar itu seolah-olah sia-sia mengingat kondisi saat ini.
Aset wisata ini, yang jaraknya hanya puluhan meter dari kantor bupati, sudah tidak lagi menjadi fokus perhatian Pemerintah Daerah, memperlihatkan adanya masalah dalam manajemen dan pengawasan terhadap aset yang telah menguras anggaran tersebut.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!