Menurutnya, meski riset yang dilakukan belum menyentuh dampak langsung terhadap manusia, indikasi pencemaran pada ikan sudah cukup untuk menjadi peringatan serius. “Saya bukan ahli kedokteran, jadi penelitian kami berhenti pada ikan. Tapi dari situ kita bisa memprediksi dampak jangka panjangnya bagi manusia,” katanya.
Prof. Aris menjelaskan, penelitian tersebut menggunakan metode histologi untuk mendeteksi kerusakan jaringan pada ikan. Hasilnya menunjukkan adanya kerusakan sel akibat paparan logam berat. “Ketika sel mati, jaringan tak lagi berfungsi. Jika manusia mengonsumsi ikan seperti itu, maka potensi gangguan ginjal dan penyakit kulit akan meningkat,” jelasnya.
Dari hasil riset itu, lanjut Aris, bisa diprediksi akumulasi berlangsung, maka akan terkumpul di manusia karena manusia sebagai prosesing akhir yang memanfaatkan semua sumber daya perikanan terutama di Teluk Weda. “Pada tingkat letal mematikan itu akan mempengaruhi seluruh aktivitas fisiologi dari tubuh manusia, makanya timbullah penyakit. Penyakit yang sering muncul adalah penyakit kulit dan penyakit ginjal, inilah bahayanya dampak dari logam berat” ungkapnya.
Apalagi masyarakat Maluku Utara gemar konsumsi ikan, sementara ikan yang ada di Teluk Weda sudah tercemar, sudah terakumulasi logam. Ketika dimakan, maka itulah yang nantinya terkumpul di tubuh manusia. “Kalau di dalam darah manusia, merkuri itu batasnya 5 sampai 10 limit program per liter. Itulah yang dideteksi, dan ternyata hasilnya sudah di atas ambang batas. Kalau melebihi ambang batas itu akan mempengaruhi organ vital manusia, khususnya untuk ginjal,” tambahnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!