Kendaraan bermotor tertatih, sebagian mencoba peruntungan dengan menerobos jalur kanan yang nyaris tergenang penuh, sementara pengendara lainnya memilih bersabar di jalur kiri yang relatif lebih aman.
Tak jauh dari sana, di Bundaran Sofifi yang berseberangan langsung dengan Masjid Raya Shaiful Khairat, juga tak luput dipeluk air. Meski tak setinggi genangan di depan RSUD, pemandangan itu cukup menjadi peringatan bahwa Sofifi terendam bukan lantaran air semata, melainkan pula abainya perencanaan.
“Ini sudah berulang kali terjadi, tapi yang hari ini paling parah,” keluh Iwan, warga Desa Galala, seraya mengarahkan jemarinya ke arah genangan yang menghalangi akses ke RSUD Sofifi. “Bagaimana mungkin masyarakat yang butuh berobat harus dihadang banjir setiap kali hujan mengguyur? Apakah ini layak disebut ibu kota?” sambungnya penuh tanya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!