Balik lagi ke sebuah kota di bagian barat Pulau Jawa. Bandung nama kawasan ini. Kawasan yang ramai dipadati warga pada sore hingga malam hari. Penamaannya mirip Kota Bandung di Jawa Barat. Kok nama yang sama dengan kawasan ini?, di Ternate Pula lagi. Tak takut plagiat?
Begini, kawasan ini dinamai para mahasiswa Unkhair Ternate di Kampus 1 Akehuda. Mereka menamainya Bandara Ujung alias Bandung. Kaget kan? Awalnya saya juga demikian.
Rian, salah seorang pemuda yang ditemui bercerita tentang istilah nama ‘Bandung’ kepada saya. “Kota Bandung terletak di dataran tinggi dengan iklim yang sejuk dan udara yang segar. Sama halnya di jalan bandara ini. Lokasi ini tak kalah sejuk nan asri ketika kita menghabiskan waktu di sore dan malam hari, itulah kenapa banyak orang mengistilahkannya ‘Bandung’ alias Bandara Ujung,” celetuknya membuat saya sedikit terpingkal.
Selain udara yang sejuk, kata Rian, warga yang berkumpul di daerah ini disuguhkan langsung pemandangan saat pesawat mendarat.
Obrolan saya dan Rian lalu berhenti. Suasana hari yang mulai gelap perlahan menambah rasa dingin di ubun-ubun hingga kaki. Tak kuasa, kunyalakan lagi sebatang rokok sambil memandang sekitar. Ada pemandangan lain ketika saya menyalakan rokok kedua. Asap mengepul membuat samar sedikit penglihatan saya. Kaget bukan main, ternyata banyak sampah berserakan di Bandung.
Sampah ini berasal dari warga yang datang bersantai di Bandung. Mulai dari kantong plastik, bekas botol air mineral, plastik makanan siap saji hingga puntung rokok berserakan sana-sini, gawat!. Tak heran, Kota Ternate per harinya mampu memproduksi sampah 100 sampai 200 ton.
Waktu menunjukkan pukul 18.00 Wit, awan hitam kembali menampakan wujudnya, mengisyaratkan hujan akan datang, tentu tanpa kompromi akan membasahi orang-orang yang beraktivitas di Bandung. Tak menjelang lama, warga yang beraktivitas di area itu sudah mulai bergegas meninggalkan kawasan Bandung terkecuali sampah. ***

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!